|
Kita tidak tahu pasti dengan
pertimbangan apa sehingga wako kita,Pak
Hasan Karman merasa perlu dan mendesak
untuk menerbitkan SK Wali Kota
Singkawang nomor 138 tahun 2008. Surat
Keputusan tersebut tentang pembentukan
tim pendataan orang keturunan asing yang
telah bermukim secara turun termurun di
Indonesia yang tidak memiliki dokumen
kewarganegaraan RI, dokumen kependudukan
(akta kelahiran, KK dan KTP).
Dalam SK
tersebut Wali Kota Singkawang
telah menunjuk Permasis (Perhimpunan
Masyarakat Singkawang dan Sekitarnya)dan
IKI(Institut Kewarganegaraan
Indonesia
)sebagai team pendataan.
Kita juga tidak tahu pasti berapa
jumlah populasi yang dimaksudkan oleh
wako kita “orang keturunan asing yang
telah bermukim secara turun termurun
yang tidak memiliki dokumen
kewarganegaraan RI”dimasyarakat
Singkawang. Menurut data yang Cinta
terima dari beberapa tokoh masyarakat
Singkawang mengatakan jumlah populasi
tidak memiliki dokumen tersebut tidak
sampai 1% dari total populasi Singkawang
175 ribu jiwa itu. Jika angka itu benar
dan menjadi alasan terbit SK
no.138,itu adalah alasan yang sangat
tidak relevan dan tidak perlu.Karena SK
tersebut hanya menyangkut(menguntungkan)
segelintir orang dari etnis Tionghoa
saja,ini akan menimbulkan kecemburuan
sosial.
Reaksi keras dari berbagai
kalangan masyarakat Singkawang terhadap
SK tersbut, dapat kita pahami.Karena
masyarakat percaya dampak dari SK
tersebut akan menimbulkan bentrok
kepentingan antar etnis dalam
masyarakat Singkawang, sehingga hal ini
dapat menghambat pembentukan kepentingan
bersama dalam kontek kehidupan
masyarakat multiras . Dari segi
kepentingan politik Pak wako sendiri,
sudah sangat jelas implikasinya SK
tersebut hanya sebagai alat proganda
untuk mendongkrak popularitas para caleg
yang disponsori Pak Hasan Karman.
SK nomor 138 itu dapat merusak
reputasi Permasis dimasyarakat
Singkawang.Rasa kecurigaan masyarakat
terhadap ormas yang bergerak dibidang
sosial-budaya ini sudah tidak bisa
dihindari.Karena Permasis telah terlibat
dalam masalah politik dan urusan
birokrasi di Singkawang. Walaupun biaya
administrasi pengurusan dokumen
ditanggung oleh Permasis.Tetapi,justru
masyarakat berpendapat Permasis
memanfaatkan SK (isu kewarganegaraan)
dan sentimen ras ini sebagai bahan
proganda untuk mencari dana. Akibat dari
krisis ekonomi global,harga saham
berkurang nilainya.Fenomena ini dapat
mempengaruhi nilai “dana abadi”
yang dimiliki Permasis.Donasi dari
para sponsornya akan berkurang dimasa
akan datang karena sebagian besar dari
mereka ini mengalami krisis likuiditas.
Jika ini terjadi,dukungan Permasis
terhadap pemerintahan Pak Hasan
Karman akan berkurang.Untuk boost
pengumpulan dana,maka harus ada isu yang
dapat dijual kepada masyarakat. Maka
dipilihnya isu seperti tertera pada SK
tersebut. Karena isu yang
mengandung sentimen kewarganegaraan
merupakan isu yang masih memiliki harga
jual dipasar domestik maupun
internasional .
Dalam klarifikasi yang diberikan
oleh Pak wako kita didepan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Singkawang
mengatakan” Kami hanya menindaklanjuti
perintah pemerintah pusat. Ini bukan
hanya Singkawang saja, tapi seluruh
Indonesia” kata Pak Hasan Karman.Tetapi
melibatkan dua organisasi non
pemerintah,ini menandakan pengetahuan
Pak Hasan Karman terhadap menejemen
birokrasi sangat minin.Jika kelak
terjadi sesuatu dalam pelaksanaan SK
tersebut dikemudian hari,sukar diminta
pertanggungjawaban organisasi non
pemerintah,misal organisasi tersebut
tidak aktip(bubar) lagi.Resikonya,Pak
Hasan Karman harus tanggung sendiri
dikemudian hari(ingat,kebijakan mantan pejabat
sering dipersalahkan kemudian hari). Karena Pak Hasan Karman
tidak menyediakan safety net untuk
melindungi diri sendiri dalam hal ini.
Menurut komentar pemerhati masalah
sosial orang Tionghoa Singkawang yang
tinggal di Bandung,Pak Herry Chung
mengatakan”Sekarang yang dibutuhkan oleh
masyarakat Singkawang yaitu lapangan(isu
ekonomi) pekerjaan untuk ribuan
penganggur.Bukan masalah
kewarganegaraan.Jika Permasis ingin
membantu,seharusnya menyediakan kredit
murah untuk masyarakat miskin sebagai
modal kerja.Saya percaya,Permasis dapat
melakukan hal tersebut
sebagai klub para milioner
Singkawang diperantauan.Saya salut kalau
mereka dapat melakukan hal
tersebut.”dengan nada agak menentang Pak
Herry menutup teleponnya untuk
mengakhiri pembicaraan dengan Cinta.
“Gagasan SK no.138
tidak berbeda dengan gagasan teguh
patung naga,seperti seorang gadis tidak
memiliki sex appeal,cowok melihatnya
tidak bernafsu.Begitu juga kedua gagasan
tersebut sangat tidak meninbulkan rasa
dukungan(nafsu) dari masyarakat
Singkawang terhadap kebijakan pemerintah
Pak Hasan Karman” kata seorang pengusaha
sukses yang tinggal di Cengkareng
meminta Cinta jangan mencantumkan
namanya.”Pak Hasan Karman dikelilingi
orang –orang tidak memiliki wawasan dan
konsep sehingga menghasilkan gagasan
yang tidak produktif”tambahnya.
SK no 138 ditinjau dari Numerology
orang Tionghoa Singkawang,isi seperti
namanya.Satu(jit) sering kita artikan
“paling”,38 menurut slang singkawang sam
pat(bodoh).Jadi,138(jit sam pat) artinya
“paling bodoh”.Apapun maknanya dari SK
no138 itu tetapi masyarakat Singkawang
merasa kehadiran SK tersebut tidak
memberi makna yang berarti untuk
membangun kota Singkawang spektakuler.
|