Catatan harian Raja San Keu Jong

Bagian Pertama

14 Juli 2010

Kata Pengantar:

Selama lima tahun terakhir ini kita telah banyak menyaksikan  seputar peristiwa bagaimana Komunitas Tionghoa Singkawang berpartisipasi di bidang birokrasi, berpartisipasi di bidang politik. Perubahan ini merupakan hasil dari reformasi di negara kita untuk memberikan kesempatan  luas kepada seluruh rakyat Indonesia untuk mengambil bagian dalam pemerintahan. Komunitas Tionghoa  Singkawang sebagai komponen dari bangsa Indonesia  tentu saja berhak berperan serta dalam kesempatan ini. Keikutsertaan di bidang pemerintahan akan memberi peluang kepada kita memberikan kontribusi, kemampuan dan talenta kita  dalam pembangunan negara kita khusus di kawasan Singbebas.  Sebagai pendatang”baru” bermain di bidang birokrasi tentu banyak tantangan dan  hal-hal yang harus kita pelajari.dengan perkataan lain komunitas Tionghoa Singkawang masih harus banyak belajar.

Melalui  edisi kali ini CintaSingkawang akan menyajikan sebuah catatan yang dinamai Catatan harian Raja San Keu Jong merupakan catatan yang sangat penting bagi masyarakat Singkawang. Catatan harian ini berupa cerita bersambung yang terdiri dari tiga bagian: Bagian pertama:Awal Sebuah Perjalanan. Bagian kedua: Perjuangan Si Raja San Keu Jong. Bagian ketiga:Nasib Kerajaan San Keu Jong.

Bagian pertama dari catatan ini kita akan meninjau kembali beberapa peristiwa yang telah terjadi di kota Singkawang, sebagian dari bahan catatan ini merupakan arsip CintaSingkawang. Bagian kedua dari catatan ini berupa proses pembentukan raja, pendukung, pendanaan. Bagian kedua ini akan disajikan dengan bahan baru hasil investigasi Team CintaSingkawang yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat umum. Bagian terakhir, kita akan melihat kendala dan kesulitan apa yang akan dihadapi oleh kerajaan San Keu Jong ini. Selamat membaca.

 Bagian Pertama(1): Awal Sebuah Perjalanan

 -Mercure Gate sebuah konspirasi, awal dari sebuah perjalanan menuju politik di era reformasi.

Menurut cerita koran Equator pada akhir Oktober 2005 Miss Anita Tjung datang ke kantor harian Equator untuk memberitahukan kepada wartawan bahwa dia memiliki affair dengan wali kota Singkawang, Pak Awang Ishak. Untuk menyakinkan  wartawan dia menunjukkan isi sms mereka  sebagai insan yang sedang jatuh cinta itu. Menurut pengakuan Miss Anita alasan yang mendorong dia menceritakan hal ini kepada wartawan karena  dia tidak dapat  terima dengan perkataan dari nyonya Awang  yang tidak ramah itu.

Masyarakat menyebutnya Love affair ini sebagai perselingkuhan Ai-An( Awang Ishak-Anita), sedang istilah politik disebut  “Mercure Gate”. Roman kedua insan ini berlangsung di kamar hotel Mercure, Jakarta.

Sesudah berita ini beredar di masyarakat, video duet antara Pak Awang dengan Miss Anita cepat beredar di dunia maya. Sebelum kita mengikuti cerita ini lebih jauh marilah kita melihat kembali arsip CintaSingkawang, siapakah aktor di belakang Miss Anita Tjung  yang  sudah diprogram oleh pihak yang sedang merencanakan untuk  menjatuhkan Pak Awang.

Miss Anita Tjung adalah anak gadis  berwajah manis memiliki kulit halus putih bersih, lahir dan dibesarkan desa Kopisan, Kelurahan Sedau. Terakhir sebelum terjun kedunianya  tinggal di kawasan seberang Kantor DPU Singkawang. Disamping memiliki fisik baik, Miss Anita  juga memiliki talenta melayani. Dengan kemampuan yang dimilikinya, dia bekerja pada salah satu  warung kopi di Saliung. Selama dia bekerja sebagai pelayan di warung kopi itu dia sempat jatuh cinta dan menjalin hubungan intim dengan Mr Budiman .Mr Budiman   adalah seorang pengusaha dalam bisnis jual beli motor bekas Legenda Motor namanya di Jl.Sama-sama Singkawang. Hasil dari buah cinta mereka itu sempat dikaruniahi seorang anak. Ketika anaknya lahir, Mr.Budiman  sempat menolak dan tidak mau mengakui bahwa itu anak biologisnya. Maka Miss Anita sebelum anaknya  lahir, telah memperhitungkan kemungkinan Mr.Budiman  tidak akan mau mengakui anaknya. Untuk itu, Miss Anita telah mempersiapkan senjatanya yaitu uji DNA. Ketika Mr.Budiman menolak terus dengan berbagai argumentasi gombalnya, Miss Anita mengancam dan meminta uji DNA untuk membuktikan Mr.Budiman sebagai ayah biologis dari anaknya.
 

Miss Anita seperti pada umumnya wanita ingin disayangi dan dimanja oleh suami tetapi dia tidak ingin terus dimadu oleh Mr.Budiman. ”Kalau dimadu terus, berarti harus berbagi cinta dengan orang lain” kata Miss Anita. Melihat tidak ada  peluang untuk mendapat kebahagiaan dalam  hubungan dengan Mr.Budiman, akhirnya dia meminta berpisah dengan Mr.Budiman.  Miss Anita sangat kecewa dengan Mr.Budiman sebagai seorang lelaki yang pernah dia cintai juga orang yang  menghancurkan kehidupannya. Dari pengalaman kehidupan rumah tangga yang tidak bahagia itu, kemudian dia mengembangkan kariernya sebagai wanita menemani kaum adam. Selama Miss Anita menekuni bisnis melayani dan menemani kaum lelaki dia banyak bergaul dengan para pejabat dan pengusaha. Kefasihan Miss Anita berbahasa Melayu Sambas membuat pergaulan Miss Anita dengan Pak Awang Ishak sangat dekat sehingga terjadi  love affair ai-an.

 

Pada saat itu Pak Hasan Karman bersahabat dekat dengan Mr. Budiman. Karena mereka memiliki perjalanan yang sama tetapi mengejar tujuannya berbeda satu sama lain. Pak Hasan Karman mengejar posisi  wali kota  Singkawang,  sedang  Pak Budiman  mengejar posisi sebagai anggota DPRD Singkawang( Kans maximum ketua DPRD).

 

Tidak menutup kemungkinan Video Clip yang direkam dengan HP oleh Miss Anita itu sudah dipesan oleh pihak yang berkepentingan, bahkan bagaimana Miss Anita berakting di publik media massa (koran) dan hilangnya dia dari masyarakat sudah diatur.  Peredaran video clip di dunia maya cepat dilakukan dan dipromosikan oleh Hendy Lie di dunia maya, anak tetangga Pak HK yang tinggal di jalan Niaga no 30 Singkawang. Seperti apa yang sudah diketahui oleh masyarakat dunia maya Hendy Lie sebagai security guardnya Pak Hasan Karman di dunia maya, bahkan setiap netter asal Singkawang dikirimi video clip ini.

 

Tujuan dari Mercure Gate yaitu:Memberi

-Dampak Politik:Pemerintahan Pak Awang mendapat tekanan dari Fraksi DPRD Singkawang. Bukan hanya isu politik yang berperanan juga isu rasisme diikut sertakan.  Karena jika wali kota dilengserkan atau diberhentikan akan terjadi penggantian wali kota. Maka para anggota Dewan terangsang dengan isu rasisme mereka inilah kerja keras untuk melengserkan Pak Awang.

 

-Dampak Ekonomi: Kerugian ekonomi yang harus diderita Pak Awang. Menurut informasi tidak resmi Pak Awang menghabiskan dana  sekitar Rp 3 Miliar untuk menyelamatkan posisinya dari tekanan politik dari kasus ini. Dengan demikian dana persiapan untuk kampanyenya berkurang, karena habis dipakai untuk mengamankan posisi Beliau dari masalah Mercure Gate .

 

-Dampak Moral: Hanya masalah moral kemudian menjadi  tidak efektif.Mereka yang design Mercure Gate ini gagal kampanye masalah moral dalam hal ini. Karena masyarakat beropini bahwa peristiwa itu terjadi bukan di kantor dan juga bukan jam kantor. Ini menyangkut  masalah kehidupan private Pak Awang sendiri bukan walikota Singkawang. Bahkan banyak kaum lelaki Singkawang merasa bangga dan memuji Pak Awang ;’he is a real man!  Seperti Tiger Wood, dia dipuji oleh kaum lelaki di China ;’he is a real man’.,semakin sebuah kasus disorot maka kemudian akan berubah menjadi basi.   

 

Miss Anita ini bukan wanita yang mudah dihadapi,dia selalu memiliki persiapan dan perhitungan kepada pihak tertentu yang pernah memanfaatkan jasanya untuk menghadapi Pak Awang. Masalahnya tinggal berapa harga yang cocok harus dibayar kepada Miss Anita untuk kesaksiannya. Hal ini bukan rahasia, hanya masalah harga. Kalau Miss Anita simpan rahasia ini terlalu lama kelak menjadi tidak berharga, seharusnya dia tahu kapan rahasianya dijual dengan harga yang tinggi. Kita tunggu saja pasti ada Mercuri Gate chapter two dalam kesaksian Miss Anita ini yang menarik untuk masyarakat.

Mercuri Gate yang menghancurkan reputasi dan materi Pak Awang, momentum itu sangat menguntungkan Pak Hasan Karman sebagai cawako. Karena keterlibatan Pak Awang dalam kasus ini merugikan Beliau dari segi politik,materi,moral sehingga daya saing Pak Awang akan berkurang dalam Pilkada 2007.

Team sukses Pak Awang telah membuat kesalahan menganalisa kasus Ai-An, menurut mereka kasus ini dirancang oleh warga yang tinggal di Inggeris. Padahal ini sebuah konspirasi ada kemungkinan merupakan hasil karya “biak Singkawang-Jakarta” untuk melumpuhkan kekuatan Pak Awang dari segi politik dan ekonomi.

 

-Kudeta terjadi ditubuh Partai PIB Kota Singkawang, awal sebuah kasus kekerasan politik Tionghoa pertama di Singkawang.

Menurut  hasil pemilu 2004 Partai PIB kota Singkawang memenangkan dua kursi DPRD Singkawang. Ketika itu partai PIB mendapat dukungan dari komunitas Tionghoa Singkawang terutama dari mereka yang tinggal di pinggiran kota. Terpilih  Pak Bong Wui Khong dan Pak Liu Min Jam sebagai anggota DPRD Singkawang. Partai PIB Kota Singkawang mendapat dukungan dari masyarakat maka para pengurus partai PIB Kota Singkawang akan mencalonkan calon mereka untuk  Pilkada 2007.

 

Pada 19 Maret 2006, ada sekelompok orang yang terdiri dari 15 orang mendatangi kantor cabang PIB di jalan Tsjafioedin Nomor 27, Singkawang. Kedatangan kelompok ini untuk memukul  Liu Min Jam, Bong Sen Fui, Abui dan Bong Ka Khong,adik kandung Bong Wui Khong. Pada saat peristiwa pemukulan itu terjadi Bong Wui Khong tidak berada di tempat kejadian., para korban mengalami babak belur dihajar belasan orang.Para penyerang yang bertindak brutal adalah para kriminal yang menamakan diri mereka sebagai PC PPIB Kota Singkawang. Tujuan kelompok ini untuk menyingkirkan kelompok Bong Wui Khong kemudian menciptakan ruang bagi langkah mulus Pak Hasan Karman agar dapat menjadi cawako untuk Pilkada 2007 dengan cara menghabisi secara politis rivalnya di tubuh PIB terutama  dari BWK dkk  .Dalam peristiwa yang terjadi di dalam tubuh Partai PIB kota Singkawang ada 4 hal yang menarik untuk kita amati yaitu:

1.Surat rekomendasi dari Partai PIB di pusat, Jakarta untuk Pak Hasan Karman.
Dengan hanya mengandalkan selembar surat rekomandasi dari pusat tentu saja kelompok Bong Wui Khong(BWK) tidak akan menyerahkan begitu saja menurut kemauan Pak HK. Menurut kelompok BWK  Pak HK tidak pernah ikut membesarkan Partai, bahkan tidak pernah hadir dalam kegiatan partai. Dengan pengertian Pak HK tidak pernah bekerja untuk partai hanya menerima hasilnya saja.

2.Karena kelompok BWK menolak kemauan Pak HK yang sesuai dengan rekomendasi dari Pusat,  terjadi penyerangan terhadap kelompok BWK di kantor cabang PIB di jalan Tsjafioedin Nomor 27. Peristiwa ini  merupakan kekerasan politik pertama  di Singkawang pada jaman reformasi berupa bentuk tindakan kriminal.

 

3.Menjelang Konfercab Partai PIB Kota Singkawang, tanggal 27 Maret 2006 sekitar jam 21.00 di Hotel Prapatan Singkawang, jajaran pengurus Partai PIB Kota Singkawang dipanggil oleh perutusan Partai PIB Pusat yang terdiri dari Taufan (Wakil Sekjen), Trenggono Chuandra dan Hasan Karman yang sekarang calon Wali Kota Singkawang. Jajaran pengurus Partai PIB Kota Singkawang memperkirakan akan mendapat pengarahan / bimbingan dari perutusan pusat partai untuk pelaksanaan Konfercab Partai PIB keesokan harinya (tanggal 28 Maret 2006). Taufan dan Trenggono memerintahkan jajaran pengurus Partai PIB Kota Singkawang mengundurkan diri!

Ketika perdebatan panas memuncak, Hasan Karman menyatakan kata “pamungkas”: “Tidak ada kawan abadi kecuali kepentingan!.” Rupanya inilah watak asli seorang Hasan Karman... yang belakangan diketahui bahwa dia berambisi mencalonkan diri dalam Pilkada Kota Singkawang. Dapat dipastikan, andai kata dia benar-benar terpilih menjadi Wali Kota Singkawang, semua sponsor dan pendukungnya akan dibabat habis demi kepentingan pribadinya. Kesaksian lengkap Bapak Muhammad Hasan dapat Anda baca disini

  

4.Pada  tanggl 28 Maret 2006, DPN PIB pusat mengutus Pak HK untuk melaksanakan konfercab ulang di Hotel Mahkota dengan dihadiri peserta 100 persen orang baru.
Sudah sangat jelas ambisi Pak HK untuk menguasai Partai PIB kota Singkawang untuk  memakai perahu Partai PIB supaya dapat mencalonkan diri sebagai wali kota. Pada ahli fisul  mengingatkan kepada kita apabila kita tidak berhati hati terhadap  ambisi kita, kita mudah menjerumus diri untuk melakukan hal yang tidak terpuji bahkan melakukan kriminal demi untuk mengejar cita-cita .

 

 -Pemilihan Ketua Forum Komunikasi Etnis Tionghoa (FOKET)

Organisasi massa ini kurang jelas peranannya di dalam masyarakat. Siapa anggotanya? RT/AD pun tidak jelas. Pada tanggal 17 September 2006 FOKET mengundang para kumpulan yayasan pemakaman orang Tionghoa  dan ketua  pengurus  Kelenteng yang ada seluruh kota Singkawang untuk menyaksikan hasil pemilihan ketua FOKET mereka. Di hadapan para ketua yayasan pemakaman  dan pengurus Kelenteng FOKET mengumumkan hasil pemilihan ketua FOKET baru. Katanya ada tiga kompetitor  dalam pemilihan yaitu;

Budiman, Kenny Kumala dan Bong Cin Nen. Budiman terpilih ketua FOKET. Pak Hasan Karman bersedia menyumbang Rp 10 juta kepada FOKET. Dalam pemilihan itu keluar sebagai pemenangnya Budiman dengan  mendapat suara terbanyak 101 suara, Kenny Kumala mendapat 37 suara dan Bong Cin Nen mendapat 13 suara. Ini merupakan hasil rekayasa Pak HK  untuk mengangkat Budiman sebagai ketua FOKET.

Tujuan Pak HK supaya Budiman bisa terpilih menjadi ketua FOKET karena:

-Supaya dia dapat memanfaatkan Budiman untuk mendekati komunitas Tionghoa  khususnya  mereka yang tinggal dipinggiran kota.

 

-Kelak pada saat dia mencalonkan diri sebagai wako Singkawang mendapat dukungan dari FOKET.

 

Pengetahuan dan pengalaman pergaulan Budiman dengan komunitas Tionghoa di kawasan Singkawang Selatan sangat diperlukan oleh Pak HK. Tanpa ada Budiman untuk memperkenalkan dia kepada komunitas Tionghoa di Singkawang Selatan tentu saja dia akan mengalami kesulitan untuk mendekati mereka. Karena Pak Hasan Karman tinggal di Jakarta tidak akan mengenal tokoh-tokoh masyarakat Tionghoa di pedesaan.  Budiman bertindak sebagai guide tournya Pak HK untuk membawa Pak HK mengeliling desa, dari desa ke desa diwilayah Singkawang Selatan.

 

Di wilayah Singkawang Selatan, kelurahan Sedau adalah  kelurahan yang terpadat  jumlah populasi(30an ribu jiwa). Mayoritas penduduknya beretnis Tionghoa. Kelurahan ini terdiri atas beberapa desa Sakkok, Kopisan, Saliung Jamthang , La cibuk, Atapkong, Lirang, Lirang Proyek, dan Bokmakong. Bagi kandidat cawako jika ingin terpilih harus sanggup menguasai kelurahan ini. Maka tidak heran kelurahan Sedau menjadi  indikator  untuk mengukur kekuatan para  kandidat,  kandidat mendapat dukungan dari masyarakat kelurahan ini merupakan kandidat favourite.

 

-Karakteristik Tionghoa dan sejarahnya di kelurahan Sedau:

Menurut sejarah komunitas Tionghoa Singbebas desa Jamthang adalah desa tertua wilayah Singbebas. Jamthang adalah desa tempat pendaratan pada nenek moyang orang Tionghoa Singbebas pada dua ratusan tahun yang lalu.Dari desa Jamthang via Lacibuk terus kepedalaman Singbebas, terutama tujuan ke kota Montrado. Kota Maontrado lebih dulu berdiri kemudian baru ada kota Singkawang. Dari desa Jamthang kemudian desa yang lain berkembang sesuai dengan kebutuhan ,seperti desa Atapkong sebagai desa perikanan(nelayan), Saliung sebagai desa memproduksi tempayan. Desa Jamthang memproduksi garam, jaman dulu cara membuat garam dengan cara memasak air laut sampai mengendap kemudian endapan itu dijamur sampai kering. Untuk  membuat ikan pedak memerlukan bahan ikan, garam dan tempayan. Pedak ikan hasil produksi ini dijual untuk masyarakat  pedalaman terutama untuk daerah pertambangan emas.

 

Ada dua group Tionghoa yang tinggal di kelurahan Sedau. Group pertama, kita namakan saja sebagai warga “asli” mereka ini memiliki sejarah nenek moyangnya sudah turun temurun tinggal di kelurahan Sedau. Pada umumnya mereka ini tinggal di pasar desa( Sakkok,Saliung, Jamthang, Atapkong) atau dipesisir jalan raya Pontianak -Singkawang.Dari pergaulan sosial group ini lebih aktif berinteraksi dengan etnis Melayu, lebih fasih berbahasa Melayu Sambas maupun berbahasa Indonesia. Pada umumnya mereka memiliki pendidikan yang lebih baik dari kelompok kedua.

Group kedua, mereka ini penduduk “pendatang”. Mereka  adalah “ex pengungsi”, pengungsi dari pedalaman Singbebas. Pada tahun 1967 terjadi menggusuran orang Tionghoa dari pedalaman Kalbar. Para pengungsi ditempatkan di Kelurahan Sedau.

Mereka ini menepati desa Kopisan, sebagian Saliung dalam, Lacibuk, Lirang Proyek dan Lirang Dalam. Disebabkan  pengalaman hidup sendiri atau pengalaman keluarganya pada peristiwa  tahun 1967 mereka ini tidak percaya komunitas yang lain dapat memperlakukan mereka dengan adil. Maka mereka ini mudah dimanipulasi oleh pihak yang ingin “suaranya” dengan etnisme dalam arti sempit. Cerita republik Lanfong, Lo Thai Pak, Lo Fong Fak menjadi cerita yang menarik bagi mereka. Karena mereka tidak memiliki wawasan luas. Untuk memperluas wawasan pada generasi muda dari group ini  dengan  melalui pendidikan. Maka sejauh ini sudah ada usaha dari masyarakat kelurahan Sedau  untuk  menaruh perhatian masalah pendidikan mereka.

 

Ketika kampanye Pilkada 2007, Lacibuk ,Lirang dan Kopisan merupakan basisnya Pak HK.

(BERSAMBUNG Ke dua….)

CintaSingkawang, 14 juli 2010