|
Menanggapi nasehat dari ‘mantan’
kadang-kadang kita perlu ekstra hati-
hati untuk memahami maksud dan tujuan
dari nasehat itu.Nasehat yang diberikan
oleh ‘mantan’bisa saja merupakan suatu
ungkapan perasaan kecintaan,simpati,
keirihatian, sindiran, simpati dan
kekuatiran, ataupun merupakan kekecewaan
terhadap kita.
Nasehat dari mantan wali kota Singkawang, Pak Awang
Ischak yang memberikan nasehat kepada
wako kita, Pak Hasan Karman tentang
renovasi kantor wali
kota
Singkawang di Singakawang yang memakan
biaya Rp 27.5M. Biaya sebesar Rp 27.5 M
adalah angka spektakuler untuk
ukuran kota Singkawang. Menurut
Pak Awang betapa baiknya jika kantor
wako dipindahkan kelokasi lain(baru) dan
lokasi yang sekarang yang ditempati
kantor wako itu dijual kepada pihak
swasta. Biaya penjualan ditambah dana
renovasi dipakai untuk membangun kantor
baru di lokasi baru. Jika dananya tidak
cukup bisa mengajukan permohonan kepada
pemerintah pusat kata Pak Awang via
salah satu koran lokal. Nasehat yang
diberikan oleh Pak Awang dalam hal ini
bukan suatu konsep yang baru. Transaksi
seperti ini, sering kita sebut “Ruislag”(tukar
guling). Tetapi, ada beberapa kelebihan
dibandingkan konsep renovasi terutama
mengenai planning perluasan kedepan.
Sesudah pelantikkan 25 anggota
legislatif
kota
Singkawang untuk masa jabatan 2009-2014
pada Rabu, tanggal 16 September 2009
yang lalu. Pak Awang Ischak terpilih
sebagai anggota DPRD Singkawang
untuk masa bakti 2009-2014 . Sejak
kekalahan Beliau dari pemilihan pilkada
beberapa tahun yang lalu, keberadaan
Beliau tidak banyak diberitakan oleh
media cetak. Seperti dalam sebuah cerita
komik persilatan, tokoh yang pernah
kalah dalam suatu pertandingan
kemudian menghilang dari keramaian,
pergi mencari ilmu baru, mempelajari
jurus jurus baru yang sangat memikat
kemudian muncul kembali kedunia
persilatan.
Dalam pengakuan Beliau mengatakan
mengapa Beliau memilih menjadi anggota
DPRD Singkawang padahal Beliau memiliki
peluang menjadi anggota legislatif untuk
tingkat provinsi. Karena pilihan Beliau
berdasarkan “kecintaan” Beliau begitu
besar terhadap Singkawang. Walaupun
Beliau mengatakan dirinya hanya memiliki
satu suara tidak akan dapat berbuat
banyak di dalam gedung dewan. Tetapi,
masyarakat Singkawang yakin kepada Pak
Awang yang memiliki banyak kelebihan
dalam pergaulan, mudah berkawan. Akan
membuat banyak kawan di gedung dewan
untuk melakoni sebuah drama yang menarik
untuk kita. Pak Awang juga menyatakan
dirinya siap mencalonkan diri sebagai
kadidat wako untuk pilkada pada tahun
2012 yang akan datang. Menurut Beliau, masih
banyak unfinsih jobs yang harus Beliau
lanjutkan untuk membangun kota Singkawang yang
sesuai dengan misi Beliau. Reaksi dari
masyarakat Singkawang terhadap
pernyatakan Pak Awang itu sangat positif,
dinilai seorang politisi yang
profesional dan sportif bukan type “politisi
kagetan/karbitan”(jika ada pilkada baru
muncul). Dengan demikian, masyarakat
Singkawang akan menaruh harapan
kepada Beliau, menilai kemampuan
Beliau bermain di dalam gedung dewan
sebagai materi penilaian.
Sebaliknya, sangat berbeda
dalam pernyataan mencalonkan diri
kembali untuk kandidat wako
incumbent untuk pilkada 2012 nanti.
Setiap kali jika ada acara peringatan
perayaan di kalangan komunitas Tionghoa
Singkawang, Pak Hasan Karman selalu memanfaatkan
moment tersebut untuk menyampaikan
“keluhan” berupa beban misi yang Beliau
pikul sebagai wako Singkawang. Namun
demikian, Beliau tetap menyampaikan
keinginannya mencalonkan diri kembali
untuk pilkada 2012 nanti. Meminta
masyarakat tetap memberi dukungan kepada
Beliau. Beliau selalu mengingatkan
kepada masyarakat Tionghoa Singkawang “jangan
bodoh orang-orang Tionghoa jangan mau
diadu domba.”. Menurut masyarakat itu
adalah bagian dari doktrin atau ajaran
dari Pak Aliok yang menyerukan sentimen
etnis “ Bui Fa Nyin”. Bukti sangat nyata,
ketika Pak Aliok sebagai ketua Permasis,
adakah proyek dari Pak Aliok yang
bermanfaat untuk masyarakat Tionghoa
Singkawang? Apakah kehidupan Fa Nyin
sudah semakin makmur di daerah Singbebas
? Selama Beliau menjadi ketua Permasis
berapa milliar dana dihabiskan untuk
kegiatannya? Mana ada proyek untuk Fa
Nyin yang bisa kita pelajari
kemanfaatannya? Jika ada tolong kirimkan
data untuk kami pelajari, agar kami
dapat mereview untuk masyarakat.
Satu-satunya keberhasilan dari
Doktrin “Bui Fa Nyin”nya Pak Aliok
adalah melalui Permasisnya sanggup
mengorbit beberapa politisi karbitan
seperti Pak Hasan Karman adalah kader
Permasis. Dan beberapa anggota
legislatif yang sekarang terpilih adalah
para oportunis seperti Ketua DPRD
Singkawang sementara, Chui Mie,Su
Mian,Johni dll. Mereka adalah para
sukarelawan Permasis di lapangan tetapi
belum memiliki karya nyata untuk
masyarakat.
Yang jelas proyek hasil karya Pak
Aliok bukan “ Bui Fa Nyin” tetapi “ Bui
Fan Nyin”. Masih ada satu
monument di kota Singkawang yang belum Pak Aliok
selesaikan “ rumah adat melayu”.Ada
tokoh masyarakat Tionghoa Singkawang
menitip pertanyaan untuk Pak Aliok”
kapan proyek itu akan diselesaikan? “.
Peringatan dari beberapa tokoh
masyarakat tionghoa Singkawang kepada
mereka yang ingin menjadi pemimpin
tetapi mengandalkan sentimen rasis untuk
mencapai cita-cita mereka. “Mereka(calon)
ini lebih baik mempelajari dan memahami
konsep nasional kita ‘bernegara dan
berbangsa’ terlebih dahulu sebelum
menyatakan dirinya sebagai calon
pemimpin.”. “Menjual isu sentimen
rasis di kota Singkawang seperti menjual
sampah, tidak laku terjual dikota(Jakarta)
dibawa ke kota Singkawang. Apa yang bisa
diharapkan pemimpin seperti itu?” kata
pada tokoh masyarakat kita.
Sebagian masyarakat
menilai tingkah laku Pak Hasan Karman
sangat kontradiksi, “mengeluh” tetapi
tetap ingin mencalonkan diri kembali,
persis seperti kegemaran orang-orang
Singkawang tempo doeloe yang sangat
gemar dengar film-film mandarin era Lin
Ching Xia Cs dengan lakon melankholis
itu apakah ini cara politik Pak Hasan dalam
meraih simpati masyarakat Singkawang?
|