Perayaan
Cap Go Meh 2010 sudah berakhir,
tetapi pesta “persoalan” bagi panitia
CGM baru dimulai. Seperti biasanya pada
setiap kali pasca perayaan CGM pasti ada
berita yang menarik untuk kita. Apalagi
CGM 2010 ini yang dipimpin oleh tokoh
kharismatik Singkawang, Pak Lio
Kurniawan alias Bong Phen Thin atau
lebih dikenal A Liok.
Komunitas Tionghoa Singkawang sudah siap
memberikan penilaian terhadap
keberhasilan pihak panitia CGM 2010
dalam melakukan tugasnya. Terutama
penilaian dari elite komunitas Tionghoa
Singkawang di Jakarta
Para elite ini menilai
keberhasilan panitia dalam pelaksanaan
perayaan CGM dengan memakai tolok ukur
terhadap hasil akhir (pendapatan) “lelang”
barang-barang CGM. Kalau hasil
pendapatan dari lelang semakin besar
berarti pihak panitia perayaan CGM
mendapat dukungan dari masyarakat.
Sebaliknya jika hasil lelang gagal
berarti pihak panitia
dinyatakan tidak didukung oleh elite
komunitas Tionghoa Singkawang
di Jakarta. Mereka menilai
keberhasilan panitia bukan berdasarkan
rekor MURI yang dicapai(cetak) oleh
pihak panitia. Karena bagi mereka
dengan duit rekor itu sangat
mudah diciptakan( harap dibaca diakali).
Mereka
melelang sepasang jeruk bali bisa sampai
seharga puluhan juta rupiah. Berapa
orang dari penduduk lokal Singkawang
yang berani lelang dengan harga seperti
itu? Harga sepasang
jeruk bali di kampung Kulor tidak sampai
seharga Rp100ribu! Beli saja di kulor
daripada beli ditempat lelang. Seorang
anak sekolah SD memahami logika nilai
ekonomi ini, apalagi bagi mereka yang
tamat dari STIE Mulia Singkawang sudah
seharusnya lebih memahami.
Namun,
yang terjadi diantara para elit
Singkawang bukan faktor logika
ekonomi,sebagian dari para penggemar
Lelang ini adalah orang-orang Singkawang
OKB yang ingin show off kepada warga
kampung halamannya bahwa yang
bersangkutan telah sukses dirantau.
Menurut seorang sosiolog Untan yang
tidak mau namanya dicantumkan ia
mengatakan cara elit Singkawang
memperkenalkan dirinya yang paling
efektif kepada masyarakat Singkawang
adalah lewat cara
tradisional yaitu Lelang.
Narasumber ini menyebut contoh seorang
pengusaha karoseri yang tinggal di Surabaya sebelumnya tak dikenal oleh
habitatnya sendiri tetapi karena
keberaniannya melelang
Rp.99.999.999,99,- beberapa tahun yang
lalu namanya meroket seantero Singkawang.
Lelang adalah cara yang paling primitif
dari budaya Singkawang untuk
memperkenalkan dirinya kepada publik,
sebagai media untuk proganda diri.
Oleh
sebab itu, setiap panitia yang bertugas
tentu akan memanfaatkan sikon ini untuk
memanfaatkan para perantau OKB ini.
Ada satu
rekor yang terjadi pada
CGM 2010 ini,hasil lelang altar
panitia resmi yang dilindungi SK
Walikota dan mendapat subsidi dari
Pemkot Singkawang gagal menyaingi altar
Tri Dharma dan MTI. Menurut pihak
panitia mereka gagal mendapat pendapatan
lelang karena pada para pendukung mereka
tidak berhasil mencapai ke lokasi lelang,
ada isu terjadi bentrok antara pawai CGM
dengan pawai takruf Maulid.
Menurut laporan Chin Miaw Fuk kepada Pak
Aliok bahwa banyak tamu terutama para
OKB ini dalam perjalanan dari Pontianak menuju ke Singkawang; mereka ini yang berpotensi
membantu lelang,tetapi mereka membalik
arah kembali ke Pontianak ketika mendengar ada isu akan
terjadi kekacauan di Singkawang. Tetapi,
menurut hasil investigasi team
CintaSingkawang terhadap kasus mengapa
altar panitia resmi gagal dalam meraih
pendapatan dari lelang sangat berbeda
dengan pernyataan pihak panitia.
Ini
hasil investigasi team kami: Ada operasi khusus dari elite komunitas
Tionghoa Singkawang
di Jakarta yang mengirim sekelompok
orang ke Singkawang untuk interferensi
acara ini. Operasi ini diberi kode”FPC”(Front
Pembela Chinese) yang bertujuan :
-memberikan
pelajaran berharga kepada para elit
lokal Singkawang atas ulahnya terutama
Pak Hasan Karman dan konco-konconya,
menggagalkan lelang pada altar panitia resmi pemegang
lisensi Walikota Singkawang.
-
membantu(meningkatkan)pendapatan lelang
pada altar saingan mereka (Altar Bong
Wui Kong dan Chai Ket Kiong).
Menurut
salah satu narasumber yang berpesan
kepada CintaSingkawang jangan
mencantumkan identitas dirinya bahwa
pihak panitia CGM 2010 akan mengalami
defisit(rugi) antara Rp1Miliar
sampai Rp 1,5Miliar.
Katanya itu adalah angka yang
reasonable. Pihak panitia mengalami
defisit karena gagal lelang, biaya untuk
keamanan tahun ini melonjak sangat tajam
akibat tekanan dari ormas tertentu
terhadap Pantia CGM 2010 bahkan biaya
keamanan beberapa kali lebih besar dari
budget sudah ditentukan. Pertanyaan kita
dengan memakai dana dari mana pihak
panitia untuk menutup defisit ini?
Hasil
kerja panitia CGM 2010 akan menjadi
bahan evaluasi bagi masyarakat terhadap
kemampuan personil-personil yang ada
disana.