Jika anggota dewan terhormat Singkawang berselingkuh

"Anggota DPRD konco Pak HK : Bong Cin Nen melarikan istri temannya"
10 April 2011

Komentar:

Perselingkuhan bukanlah perbuatan yang terpuji, tidak dibenarkan baik secara norma masyarakat ataupun  hukum yang berlaku di negara kita. Karena perselingkuhan dapat  menyakiti pihak yang tidak berdosa, merugikan mereka yang terlibat.

Sebagai contoh; perselingkuhan wakil ketua DPRD Singkawang, Pak Bong Cin Nen Spd (sarjono pendidikan), dengan istri teman baiknya yaitu  Pak Chia Pit Jun yang biasa  panggilan Ajun , perselingkuhan ini merupakan peristiwa menggemparkan kota Singkawang.

 

Ketika team CintaSingkawang mendatangi rumah kediamannya di Jl.Yos Sudarso di kawasan Kuala Gg Nelayan yang letaknya tidak jauh dari rumah kediaman Pak Aliok, Pak  Ajun bercerita bahwa istrinya bernama Lie Nyuk Chai alias Achai,terlahir di Sui Pangkalan ( Sungai Duri). Sedangkan Ajun asli kelahiran Singkawang.  Mereka sudah berumahtangga belasan tahun  dan dikaruniahi 2 anak, berumur 10 tahun dan 7 tahun. Pekerjaan Ajun sehari-hari sebagai buruh tukang emas disalah satu toko emas di kota Singkawang.

 

Ajun bersahabat akrab dengan  Bong Cin Nen, anggota DPRD Singkawang dari fraksi Golkar. Mereka sudah lama saling mengenal, sebagai sahabat Ajun membantu Bong Cin Nen ketika pada pemilihan legislatif. Ajun sebagai ketua tim sukses Bong Cin Nen.

Sejak pada tanggal 5 Maret 2011, Achai telah meninggalkan anak dan Ajun. Dia dibawa pergi oleh Bong Cin Nen. Bong Cin Nen menyembunyikan istri Ajun beberapa hari  pada salah satu rumah di Pasiran. Bong Cin Nen membeli satu rumah di jalan Gunung Bawang kemudian istri Ajun dipindahkan kesana. Ketika Ajun mengetahui akan hal ini, Bong Cin Nen malah mengintimidasinya dan  mengancam Ajun bahwa dia (BCN) akan memakai pengaruh sahabatnya, Pak HK walikota Singkawang untuk menghadapi Ajun . Sebagai orang Singkawang  tentu saja A Jun sangat paham dengan kebiasaan- kebiasaan yang dipakai oleh kelompok Hasan Karman yaitu suka memakai cara kekerasan di Singkawang, sudah kehilangan istri malah bisa-bisa di”franschaikan”, sudah jatuh ketimpa tangga pula kata pepatah.

 

Sebagai buruh kecil, Ajun tidak memiliki biaya untuk menyewa pengacara untuk menghadapi mereka yang “merasa sangat berkuasa di kota Singkawang” maka kasus ini sampai hari ini ( 09/04/11) baru dipublikasikan. Itupun  berkat bantuan dan dorongan dari “sebuah kekuatan elite Tionghoa Singkawang di Jakarta dan beberapa tokoh lokal yang masih memiliki hati nurani” yang tidak ingin melihat kota Singkawang  tercinta menjadi tempat terjadi penindasan oleh “mereka merasa sangat berkuasa” terhadap  pihak yang lemah seperti Ajun itu. Untuk mendapat keadilan, Ajun telah melapor kepada pihak berwajib dan juga kepada ketua partai Golkar.  Karena perselingkuhan ini telah membawa penderitaan kepada Ajun dan keluarganya, terutama kedua anaknya yang masih kecil itu perlu mendapat pembinaan dari kedua orangtua mereka.

 

Seluruh masyarakat Singkawang, terutama dari komunitas Tionghoa Singkawang menanti tindakan Pak HK. Karena masyarakat memiliki sebuah persepsi: Pak HK sebagai orang bertanggungjawab dalam hal  pembinaan moral dan karakter para royalis HK di Kerajaan San Keu Jong . Apalagi selama ini Bong Cin Nen bekerja sangat keras  untuk kepentingan politik pencitraan Pak HK dengan ideologi “Bui Fa Nyin (Demi Tionghoa)”yang disempurnakan oleh Pak Bong Cin Nen menjadi “Bui Fa Nyin’s Lo Pho” ( Demi istri orang Tionghoa)

 

Perselingkuhan Bong Cin Nen merupakan sebuah ujian terhadap hukum dan displin partai, dan kehormatan anggota dewan di kota Singkawang. Apakah DPRD Singkawang akan mengajukan tingkah laku anggotanya yang sudah tidak terhormat yang bermental senior (baca ;senang istri orang) ini ke Badan Kehormatan( BK) ???

Disamping itu, masyarakat Singkawang juga menuntut bahwa Bong Cin Nen harus segera dipecat  secara tidak terhormat dari semua jabatan organisasi sosial dan organisasi kemasyarakatan Tionghoa Singkawang yang dijabat oleh dia sekarang.Kita menunggu.

 

CintaSingkawang,10 April 2011