|
Permasis adalah
singkatan dari Perhimpunan
Masyarakat Singkawang dan Sekitarnya,
merupakan ormas bergerak di bidangsosial
budaya menurut misi
dan visi dari organisasi tersebut.
Sudah hampir 60 tahun di daerah
Singbebas tidak ada ormas yang
terkoordinasi dengan baik yang dapat
memberikan pelayanan khusus
dalam masalah sosial-budaya kepada
komunitas Tionghoa Singkawang yang
tinggal di wilayah tersebut. Sehingga
kehadiran Permasis menjadi harapan
masyarakat ormas ini dapat
membangun dan mensejahterakan mereka.
Ekspektasi masyarakat terhadap kemampuan
Permasis sangat tinggi (khususnya dalam
hal mengatasi pengangguran dan
penanggulangan kemiskinan di daerah
Singbebas.)
Gagasan dan konsep
Permasis merupakan hasil karya brilliant
dari putra Singkawang. Salah satu dari
putra Singkawang yang berbakat itu
adalah Pak Aliok sebagai arsitektur
Permasis. Beliau ini telah menghabiskan
banyak waktu untuk
tujuan kemajuan Permasis. Dibawah
kepemimpinan Pak Aliok yang kharismatik
itu telah berhasil membina beberapa
pengikut Permasis yang setia (fanatik)
dan donatur yang dermawan, seperti Pak
Akhiong,Pak Liu Tji Lim dan Pak Chin
Miau Fuk, dll. Mereka ini selalu siap
menerima instruksi dari Pak Aliok.
Beberapa minggu yang lalu Pak Chin Miau
Fuk baru saja menerima instruksi untuk
menjabat sebagai ketua panitia pelaksana
Cap Go Meh 2009.
Sebagaimana pada
umumnya ormas yang ada di negeri ini,
sering terlibat dalam masalah politik.
Baik keterlibatan itu secara langsung
atau tidak langsung. Permasis juga tidak
luput dari dilema ini. Memang,
kadang-kadang kita perlu politik untuk
melindungi kepentingan organisasi dan
komunitas kita. Tetapi, kita tidak ingin
komunitas kita menjadi bahan komoditas
politik. Jika kepentingan komunitas
dipertaruhkan dengan ambisi politik
perseorangan atau kelompok maka pada
akhirnya yang menjadi korban adalah
komunitas itu sendiri.
Bukti di lapangan menunjukkan bahwa
komunitas Tionghoa tidak berbeda dengan
komunitas dari etnis lain, mudah
dimanipulasi dengan masalah ras. Sekedar
contoh Bapak Basuki Tjahaja Purnama
alias Tjung Ban Hok atau panggilan
sehari –hari A Hok. Ketika Pilkada untuk
bupati Beltim pada tahun 2005, ada
indikasi Beliau memanipulasi isu ras
dalam kampanyenya (baca
artikel
ttg ahok).
Begitu juga Pak Hasan Karman tidak
ketinggalan mengikuti jejak Pak Ahok
menyisipkan isu ras dalam kampanye
Pilkada 2007 di Singkawang yang
lalu.Walaupun kedua tokoh itu tidak mau
mengakui bahwa mereka
tidak rasis dan tidak “main kotor” dalam
masalah ras ketika kampanye. Tetapi
bukti di lapangan menunjukkan lain (Perjalanan
Sejarah Kota singkawng).
Kita memfokuskan pada perbuatan mereka
bukan pada perkataannya yang menjadi
penilaian kita. Kita memaklumi hal
tersebut karena keterbatasan wawasan dan
konsep yang dimiliki para
calon pemimpin sehingga cara mereka
memperjuangkan ambisinya di bidang
birokrasi melibatkan komunitas kita
dalam posisi yang tidak
menyenangkan.Walaupun tidak terjadi
insiden yang dapat membahayakan
komunitas kita. Tetapi kita tidak ingin
kelak para calon pemimpin baru mengikuti
metode mereka yang salah itu. Kehidupan
politis harus senantiasa dicerahi (bukan
diperbodoh atau dimanipulasi).
Kita ingin pemimpin (calon pejabat) di
masa mendatang yang
mewakili komunitas Tionghoa Singkawang
lebih berwawasan dan memahami konsep
membangun masyarakat multiras. Untuk itu
kita perlu satu wadah dapat membina
mereka sehingga mereka menjadi calon
pemimpin yang cerdas dan berwawasan.
Permasis pantas memiliki dan memimpin
wadah tersebut karena Permasis memiliki
fasilitas yang memadai. Tetapi dengan
kemampuan sumber daya manusia(SDM) yang
dimiliki Permasis sekarang masih
belum memadai. Namum demikian ada
beberapa hal perlu kita lakukan yaitu
memajukan Permasis supaya mendapat SDM
yang kita perlukan. Kita perlu terobosan
baru untuk memajukan Permasis dengan
cara yang berinovasi, berorientasi ke
depan, dan mengembangkan
hal-hal strategis. Tanpa
perencanaan dan pemikiran ke depan maka
masyarakat akan menilai kemampuan
Permasis hanya sanggup mengurus
acara Cap Go Meh, mengurus acara
tersebut tidak memerlukan
skill tertentu. Menurut fakta di
lapangan memberi gambaran sangat jelas
kepada kita sejauh ini bahwa siapapun
yang mengelolah
Cap Go Meh maka hasil pendapatan
dari acara CGM selalu sama
yaitu “defisit”. Sebagai orang
Singkawang kita merasa malu terhadap
komunitas Tionghoa Sambas mereka
mendapat suplus puluhan juta rupiah dari
acara CGM 2008 yang lalu. Aaaah kalau
begitu komunitas tionghoa Singkawang
kalah cerdas dalam hal
pemahaman menejemen CGM. Mudah-mudahan
para team panitia CGM 2009 Singkawang
nanti akan mengadakan study banding ke
Sambas untuk mempelajari menejemen orang
Sambas itu.
Demi mencari
SDM,Permasis harus “go internasional”
(globalization). Kita tidak perlu merasa
malu belajar konsep dan pengalaman dari
bangsa lain, seperti
bangsa Yahudi mempersatukan bangsanya
untuk kemajuan dan perkembangan
negaranya.
Orang keturunan
Yahudi tinggal dimana-mana.
Orang Yahudi tinggal di luar negara
Israel, bahasa yang mereka pakai ada
bermacam-macam bahasa tergantung di
negara mana mereka tinggal.
Untuk mempersatukan
generasi muda Yahudi diseluruh
dunia ini, negara Israel mendirikan camp
persahabatan untuk anak-anak Yahudi
perantauan. Hampir semua anak dari
Yahudi perantauan pernah mengunjungi
camp tersebut, mengkontribusi talenta
mereka dan kesempatan berkenalan dengan
sahabat-sahabat dari berbagai negara.
Untuk membangun
daerah Singbebas tidak mungkin hanya
mengandalkan kemampuan sumber daya lokal,
harus dibantu dengan kemampuan dari luar
(global). Mengingat ada sekitar 100 ribu
jiwa orang Singbebas
yang hidup di perantauan (Hongkong,Taiwan,Malaysia,Singapore,RRC).
Ini adalah sebuah potensi bisnis yang
perlu mendapat perhatian kita. Anak (keturunan)
mereka memiliki SDM jauh lebih baik
dibandingkan generasi orangtua
mereka. Untuk itu, Permasis harus
mendirikan sebuah camp di wilayah
Singbebas. Lokasi yang dipilih untuk
mendirikan camp, pilihlah daerah
perbukitan dan memiliki
pemandangan alam yang indah. Daya
tampung camp ini kurang lebih untuk 150
orang, memiliki fasilitas seperti motel.
Keturunan dari orang Singbebas di
perantauan kita himbauan untuk
mengunjungi camp ini. Kegiatan camp
selama 3 minggu, para pengunjung dibagi
dalam beberapa group, setiap group
terdiri dari pengunjung domestic
(Jakarta) dan internasional. Acara
kegiatan camp ini harus disusun
sedemikian rupa, ada berbagai kegiatan
sosial dan budaya. Ini seperti sebuah
paket holiday untuk mereka. Harapan kita
dengan ada kegiatan camp Permasis ini
sehingga terjadi pertukaran informasi,
gagasan dan masukan – masukan yang dapat
dipakai sebagai bahan kajian cara
membangun daerah Singbebas via Permasis.
Siapa tahu kelak Permasis dapat
melahirkan pemimpin kelas Internasional
karena sudah go internasional.Itulah
yang menjadi harapan kita. Apakah Pak
Aliok sudah siap menerima
tantangan ini ?
|