|
Kita semua sudah tahu apa yang
disebut KURSI. Dengan memakai
bahasa sederhana kita dapat
melukiskan apa yang disebut kursi, yaitu
tempat untuk duduk.Ada bermacam-macam
jenis kursi seperti kursi makan,kursi
malas. Kursi juga sebagai symbol
kekuasaan atau kedudukan terutama
didalam dunia birokrasi. Kita sering
mendengar suatu pernyataan seperti ini;
dia menduduki kursi walikota, partai
politik yang dia pimpin menguasai jumlah
sekian kursi di parlemen. Kursi juga
bermakna perlindungan dalam konteks “ayat
ayat kursi”. Ditinjau dari bahasa kita
pengertian kursi lebih memberikan makna
positip seperti “kenyamanan,perlindungan,kedudukan”
daripada bermakna negatip.
Namun demikian, paling tidak ada
tiga jenis kursi yang harus dihindari
dan jangan pernah kita berniat menduduki
diatas kursi tersebut.Yaitu:
Kursi pesakitan,orang
yang duduk di kursi pesakitan adalah
orang hukuman(terdakwa).Apabila orang
duduk di kursi pesakitan dalam
suatu perkara di pengadilan, jika secara
hukum terbukti bersalah orang tersebut
akan mendapat hukuman.Namanya
hukuman,bukan hal yang enak untuk
dinikmati.
Kursi roda(wheelchair),pada
umumnya orang yang duduk diatas kursi
roda adalah orang lumpuh atau orang
yang menderita cacat.Karena terbatasan
fisiknya dapat bergerak dari satu tempat
ketempat lain orang lumpuh memerlukan
kursi roda untuk mempermudah mobilitas
didalam kehidupannya. Kursi roda dapat
digerakan dengan memakai tenaga listrik
supaya orang lumpuh dapat mengontrolnya
tanpa harus dibantu orang lain.
Kursi listrik(electric chair)
adalah alat untuk mengeksekusi para
penjahat yang mendapat hukuman
mati.Penjahat yang akan dieksekusi
didudukan diatas kursi listrik kemudian
listrik dinyalakan dalam waktu
hitungan detik saja penjahat tersebut
akan mati.
Bagaiman menurut pengertian dalam
bahasa Tionghoa Singkawang /San Kheu
Jong hakfa tentang Kursi listrik(Thian
Ten),mari ikut cerita berikut ini.
Pada akhir bulan September 2008
yang lalu, rombongan pengurus Permasis
mengunjungi daerah
Kalbar.Rombongan ini dipimpin oleh ketua
dewan pembina Permasis, Pak Agus(Siauw
Kim On).Ketua Permasis ,Pak Aliok tidak
ikut dalam kunjungan ini.Rombongan ini
tiba di Pontianak langsung
meninjau kantor koran Borneo
Tribune.Pak Agus ditemani oleh Pak
Akhiong. Pak Akhiong sebagai komisaris
utama koran Borneo Tribune.Koran
ini baru berusia beberapa bulan
saja,dengan harga eceran Rp.1000/
eks.Dari segi ekonomi,koran tersebut
memberi subsidi kepada pembacanya dengan
harga jual yang sangat murah.
Setelah mengunjungi kota
Pontianak,rombongan Permasis ini
melanjutkan perjalanannya menuju
kota Singkawang.Di kota Singkawang
rombongan ini mengadakan pertemuan dengan
wako kita,Pak Hasan Karman.Ketika dalam
pertemuan tersebut Pak Agus memberikan
wejangan yang sangat berharga kepada
wako kita yang juga adalah mantan anak
buahnya di Barito .Kata Pak Agus”jangan
lupa diri dengan kedudukan”. Nasehat
dari Pak Agus ini merupakan hasil dari
sebuah observasi terhadap tingkah laku
komunitas Tionghoa Singkawang dalam
kehidupan Beliau .Selama puluhan tahun
Beliau bekerja diperusahaan Barito Group,Beliau
telah berjasa besar dalam hal
memberikan kesempatan kepada
komunitas orang Singkawang untuk
bekerja di perusahaan
tersebut.Selama itu juga Beliau telah
banyak melihat tingkah laku anak
buahnya.Ada yang bersifat
penjilat,ada yang merasa berkuasa lupa
dengan daratan , tidak menghargai orang
lain dll.Beliau memahami betul sifat
orang berkuasa sering lupa
diri.Beliau tidak ingin mantan anak
buahnya bersikap demikian maka Beliau
mengingatkan kepada Pak wako kita.
Didepan ex bosnya Pak wako kita
mengaku posisi dia seperti sedang duduk
diatas kursi listrik.(thian
ten).Tentu saja yang dimaksudkan
oleh wako kita yaitu kekuasaannya
seperti duduk di atas kursi listrik
tidak bisa bergerak seperti orang lumpuh
saja.Karena dalam bahasa Tionghoa
Singkawang kata thian ten juga diartikan
Kursi roda(wheelchair).Maksudnya
kebijakan yang dihasilkan tidak bisa
berjalan sehingga Beliau menyadari bahwa
memimpin masyarakat itu sangat berbeda
tidak seperti memimpin pegawai
diperusahaan swasta.Apalagi harus
menghadapi anak-anak nakal di taman
dewan yang tidak mau berkompromi, mereka
itu memiliki pandangan politik
yang sangat berbeda yang menurut istilah
pak wako kita tidak level. Memang
kekuasaan sangat berbeda dengan
memimpin.Kekuasaan tanpa kemampuan
memimpin sama saja seperti kapal yang
kehilangan kompas,sulit untuk mencapai
tujuan untuk membangun
kota
Singkawang spektakuler.
|