LEVEL

29 September 2008
Renungan:

Hai,Cinta! Dalam situasi apapun, aku merasa kau adalah tetap sahabatku. Kau adalah Orang yang dapat mengerti akan kesulitan yang sedang aku hadapi sekarang  dan yang akan datang. Kau adalah sahabatku yang  mau mendengar keluh kesahku. Sikapmu yang penuh dengan pengertian itu, membuat  aku tidak segan  mengakui kesalahanku. Kau adalah sahabatku, tempat untuk berdiskusi dan berdebat, membuat  pembicaraan  kita tentang membangun kota Singkawang Spektakuler menjadi  sangat seru. Orang lain sering  salah   dalam menafsirkan  perkataanku, sehingga  menimbulkan Polemik seperti peristiwa terjadi dua minggu yang lalu.

 

Aku merasa seperti “menggurui”  para guru dalam  acara pertemuan pengurus PGRI Singkawang  untuk memperkenalkan  metode spektakuler cara  menyejahterakan para guru di kota Singkawang. Dengan harapan, jika kehidupan para guru dapat disejahterakan maka mutu pendidikan di kota Singkawang dapat ditingkatkan. Dihadapan mereka, aku menyatakan para anggota DPRD periode sekarang tidak selevel dengan eksekutif. Maksud aku, mereka bukan teman berdiskusi dan berdebat  yang baik karena mereka tidak selevel. Partner yang tidak selevel mana mungkin dapat diajak kerjasama. Buktinya permintaanku mengenai defisit APBD sebesar Rp.45.872.906.415,00 tidak pernah mereka setujui. Aku juga mengatakan ”Pak Tasman (Mantan Ketua PGRI) adalah guru olahraga saya waktu SMP. Beliau akan maju sebagai caleg dari Partai Gerindra. Ini harus didukung. Saya mengimbau PGRI nanti ikut bertanggung jawab untuk menghasilkan dewan yang lebih baik, jangan sia-siakan hak pilih kita. Saya sambut baik figur-figur potensial untuk maju sebagai caleg pemilu 2009”.

Untung, pada waktu itu tidak ada guru yang memprotes akan perkataanku. Seandainya ada maka betapa malunya aku karena pada pertemuan tersebut aku memakai baju safari dengan pin (pakaian dinas). Seharusnya dalam  kapasitas sebagai wako dalam pertemuan resmi (dinas), aku tidak pantas mengatakan masalah ambisi perseorangan,partai, atau memberi dukungan kepada caleg secara terbuka. Tindakan yang tidak menurut pratokol ini, akan  menimbulkan pertanyaan  tentang mutu level yang aku miliki. Ah,aku membuat kesalahan  kecil, Cinta ! Seharusnya aku tidak paranoia tentang masalah  level.

 

Oh,Cinta! Satu hal yg sangat menyakitkan perasaanku yaitu mendengar kritikan tajam dari masyarakat yang menyebut aku belum mampu berbuat banyak selama sepuluh bulan duduk dibangku orang nomor satu itu. Aku  harus mengembangkan immunilitas untuk menghadapi kritikan  seperti itu yang dimuat di koran lokal ataupun menjadi bahan cerita di warung kopi. Ada yang mengatakan janjiku akan membawa investor  ke kota Singkawang hanya merupakan “dongeng siang  bolong”. Ada juga yang mengatakan itu hanya cerita klasik . Untuk menghadapi kritikan semacam itu, terpaksa aku memberi sebuah analogi ini ‘"Kita ambil contoh, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang sebelumnya wakil gubernur juga perlu pembenahan mendasar. Berhubung perbedaan visi misi dari gubernur terdahulu”. Aku tahu, argumentasi ini sangat lemah dan tidak dapat diterima oleh masyarakat Singkawang secara umum. Aku memahami betul “adatnya” orang Singkawang,mereka ”tidak peduli” dengan wako  Jakarta  bagaimana cara dia membangun kota Jakarta . Tetapi, orang Singkawang “sangat peduli” akan wakonya yang membangun  dan memajukan kota Singkawang. Dengan perkataan lain, masyarakat Singkawang tidak peduli akan wako Jakarta bagimana  dia menangani pembangunan diwilayahnya karena ini tidak mempengaruhi terhadap kehidupan masyarakat Singkawang secara langsung. Sebaliknya, ada masyarakat (orang)Jakarta yang sangat  menaruh perhatian tentang pembangunan dan perkembangan kota Singkawang. Sebagai contoh, seperti Pak Aliok, Pak Akhiong, Pak Asan, Pak Miau Fuk, dll.

 

Ada satu keistimewaan  yang melekat pada jiwa  setiap orang Singkawang , yaitu rasa cinta begitu besar  terhadap kota kelahirannya yaitu Singkawang. Mungkin ini pengaruh gen terhadap setiap anak yang lahir di Singkawang. Mereka ini selalu bersedia berbakti untuk  kota kelahirannya tanpa merasa dikomandani oleh  organisasi sosial tertentu.

 

Sebagai sahabat, dengan kerendahan hati Cinta ingin memberi sedikit masukan untuk menghadapi kritikan terhadap ketidakberhasilan  proses penarikan investor untuk masuk ke Singkawang.

Tiba-tiba aku mendengar suara bangun..bangun,pak!.”Bangun,pak! “ Aku terbangun dari tidurku kemudian aku bertanya kepada istriku:” Ada apa Ibu ?”. Istriku tersayang dengan suara lembutnya menjawab:”Sudah jamnya bangun tidur,siap-siap pergi ke kantor untuk menyiapkan THR karena lebaran sudah dekat” . ”Oh,Bu.Baru enak tidur,dibangunkan “jawabku dengan letih dan masih ingin terbaring diranjang. “ Bapak,mimpi lagi?”tanya istriku.”Iya,berbincang-bincang dengan sahabatku,CintaSingkawang”,jawabku dengan memberi penjelasan kepada istriku.”Syukur,syukur.Ketemu dengan cinta,dia ramah dan sopan terhadap saya.”,kata istriku.”. Apakah bapak mendapat inspirasi dari Cinta?”,istriku bertanya dengan nada interogasi . “Ya,Bu” jawabku singkat. Memang,aku harus berhati-hati mengeluarkan statement karena musuh-musuh politik aku sedang menyusun kekuatan mereka utk menyerang aku,seperti yang telah dibisikan cinta kepadaku dalam mimpi.

 

CintaSingkawang,29 September 2008