Salam Cinta Singkawang,
Kunjungan terakhir saya ke
Singkawang sekitar satu tahun yang lalu,
dimana saya sangat menikmati secangkir
kopi yang begitu nikmat di pagi hari
yang bersebelahan dengan rumah saudara
saya. Sambil menikmati kopi yang tiada
duanya itu, saya sering memperhatikan
kegiatan-kegiatan yang sedang
berlangsung di kedai kopi tersebut. Si
empunya kedai melayani para pembeli dan
customernya, yang banyak merupakan
langganan tetap setiap pagi. Ada
dialog kecil yang terjadi disana
ditengah pelayanan. Keadaan yang
sangat kondusif dari kemajemukan
masyarakat dengan latar belakang dan
budaya yang berbeda. Menyatu dalam
keselarasan kehidupan keseharian.
Sungguh merupakan pemandangan indah
setiap pagi yang menemani saya dengan
setia, saat menikmati secangkir kopi
keras yang nikmat. Itulah
pandangan sekilas yang saya dapatkan
saat berkesempatan berkunjung kesana.
Menurut hemat saya pribadi, bahwa
saya tidak lagi dapat mengkategorikan
diri saya pribadi sebagai "Orang
Singkawang", karena begitu lama saya
sudah meninggalkannya, juga begitu
banyak tempat dan hal yang tidak saya
pahami, begitu pula dengan budaya dan
kebiasaan masyarakat setempat yang
kadang terasa asing. Maka saya sungguh
tidak layak apabila masih mengikrarkan
sebagai orang Singkawang. Dalam 20 tahun
terakhir saya berdomisili di Solo (Jawa
Tengah). Demikian mengenai diri
saya.
Sekilas saya
membaca tentang berita aktual maupun
yang sudah lewat tentang manuver politik
yang terjadi di kota tersebut, tentang
pembangunan patung naga yang
kontroversial, tentang organisasi sosial
budaya yang tidak sepenuhnya murni
sebagai organisasi yang bergerak di
bidang sosial budaya. Walaupun saya
tidak begitu tertarik terhadap issue di
bidang politik, tergelitik juga saya
untuk menanggapi pemikiran saya dari
sudut pandang saya pribadi. Yang
ingin saya tanggapi adalah beberapa
masalah, seperti kontroversial patung
naga. Pembuatan patung atau tugu
di tengah kota/tempat umum harusnya mengkaji
dari segi sejarah atau kultur lokal (dalam
hal ini lintas etnis, karena Singkawang
adalah
kota
unik dimana kebersamaan lintas etnis
sangat terasa). Seperti di Solo,
kami mempunyai tugu lilin sebagai
peringatan akan serangan umum 4 hari
melawan Belanda di Solo, patung Brigjen
(Anumerta) Ignatius Slamet Riyadi,
sebagai peringatan perjuangannya merebut
Solo kembali dari tangan Belanda dengan
dilakukannya penandatanganan serah
terima kota Solo, selain beliau adalah
putra Solo. Dan untuk menegakkan
patung beliau ditengah kota kami, bukanlah perjuangan yang mudah,
walaupun beliau adalah putra Solo yang
dalam sejarah sangat berjasa untuk Solo.
Kajian-kajian sejarah dan birokrasi
memerlukan waktu yang lama dari semua
pihak untuk memperjuangkan peletakan
patung tersebut. Namun, di
Singkawang, sesuai yang saya baca dari
artikel anda, patung kecil yang
membahayakan kerukunan etnis di kota itu
adalah merupakan monumen "kesombongan
dan keangkuhan" bagi segelintir
orang-orang kaya yang merajai
perekonomian kota tersebut, tanpa ada
background sosial budaya maupun sejarah
yang melatarbelakangi pembangunan patung
tersebut. Bagi saya adalah sesuatu
yang sangat absurd dalam hal ini, maka
layaklah terjadi gejolak-gejolak yang
dapat merugikan masyarakat
kota itu sendiri, yang
apabila tidak hati-hati dapat
memporakporandakan keutuhan
bermasyarakat di
sana.
Selain patung naga, saya juga sempat
mendengar cerita dari handai tauladan
yang tinggal di
kota
itu, bagaimana para konglomerat
Singkawang memamerkan kekayaan mereka
dalam merayakan pergantian tahun dengan
memberikan atraksi kembang api yang
memakan biaya begitu besar.
Sementara di setiap sudut kota dan pedesaan/kampung terdapat banyak
saudara-saudara, baik yang berkuning
langsat ataupun sawo matang yang masih
mengais di tengah kemiskinan yang
mengakibatkan kebodohan, karena
ketidakmampuan mereka dalam memberikan
pendidikan yang semestinya kepada
anak-anak mereka. Begitu ironis
keadaan di kotamadya ini. Begitu
tertindasnya orang-orang yang dilahirkan
menjadi ekonomi bawah. Seakan
adalah dosa mereka untuk dilahirkan di
keluarga miskin.
Para
penguasa bergandeng tangan dengan "konglomerat"
Singkawang menutup mata terhadap
peningkatan kesejahteraan
saudara-saudara mereka, baik yang se-etnis
maupun yang tidak. Apabila setahun
sekali ada bakti sosial dengan
membagikan bantuan sembako satu kantong
kresek kepada setiap individu kaum papa,
bagi saya tidak bedanya sebagai suatu
pertunjukkan yang membosankan dalam
mengelabui mereka. Kembali lagi
hal itu dapat bermuara dari kesombongan
dan keangkuhan pribadi, demi kepentingan
untuk dielukan dan menjadi topik
pembicaraan masyarakat di
sana, yang di
mana mungkin merupakan kebanggaan
tersendiri bagi para "konglomerat".
Sekali lagi ABSURD!
Mungkin adalah sudah menjadi
kebiasaan masyarakat Singkawang di dalam
dialog atau pembicaraan selalu tidak
alpa menambahkan angka-angka di
sela-sela pembicaraan. Hal ini terjadi
karena latar belakang mayoritas
masyarakat adalah pedagang, dengan
berbagai usaha yang dilakukan disana dan
bisa dimengerti. Namun, juga sering
terlupakan, bahwa manusia hidup tidak
hanya terdiri dari angka-angka dan
hitungan untung rugi, apalagi dengan
jalan mempertaruhkan integritas
kemajemukan masyarakat lokal pada
khususnya dan integritas bangsa pada
umumnya. Hal itu bagi saya adalah
menjadi penghianatan terhadap negara dan
bangsa kesatuan Indonesia
secara umum.
Hal-hal yang dapat saya tangkap
dari kunjungan saya ke
kota anda, menorehkan
keprihatinan tersendiri terhadap
masyarakat di sana,
khususnya masyarakat Tionghoa yang
apatis terhadap lingkungan dan
higenisitas dengan ditransformasinya
rumah-rumah tinggal di tengah kota menjadi rumah burung walet yang
bertebaran dimana-mana. Pada pagi
ataupun sore hari terdengar bunyi
kicauan burung buatan yang saling
menyahut di setiap sudut kota. Pembangunan tersebut juga kembali
bermuara pada ke-egoisan para pemilik
modal/cukong besar, baik yang bermukim
di
kota ini maupun
yang perantauan. Juga keheranan
saya terkuak dengan pertanyaan, mengapa
masyarakat umum di Singkawang menutup
mata, telinga dan mulut mereka, saat
eksistensi kehidupan mereka di ambang
bahaya, yang dilakukan oleh segelintir
orang-orang yang "merasa" kaya.
Kesehatan tidak dapat di beli oleh
siapapaun di dunia ini, namun merupakan
anugerah Tuhan sang pencipta dan
bagaimana kita mewujudkannya dalam
menjaga kelestarian lingkungan dan
ekosistemnya. Kerusakan-kerusakan
lingkungan sekitar, sudah ditandai
dengan banjir besar yang menjadi
langganan setiap tahun dan bahkan sudah
meluas kemana-mana. Banjir setiap
tahunnya bukan saja ajang untuk bermain-main
berkeliling kota, namun haruslah
diantisipasi dengan pengaturan tata kota
yang lebih baik, sampah yang tidak
bercecer di setiap sudut kota dan pasar,
sungai yang tidak juga dipenuhi sampah,
pembangunan fisik yang sembarangan,
meninggalkan segala aspek lingkungan
hidup dan tata kota dan hal lain
sebagainya yang dilakukan masyarakat
dalam sumbangsih mereka terhadap
keterpurukan mentalitas dan pengrusakan
lingkungan yang berdampak kesegala
lapisan masyarkat, tanpa membedakan,
etnis, agama, ekonomi, status atau
apapun yang menjadi kelekatan dan
kebanggaan masyarakat Singkawang pada
umumnya.
Semoga artikel yang anda posting
di blog anda dapat juga menggugah rasa
kritis masyarakat Singkawang, khususnya
para generasi tunas dan muda untuk lebih
peka terhadap perkembangan jaman dan
pengrusakan lingkungan yang dilakukan
oleh generasi sebelum mereka, agar
mereka dapat menampilkan diri secara
intelektual, sehingga tidak lagi menjadi
kaum marginal di Indonesia, suatu kurun
waktu nanti. Selamat berjuang dan semoga
anda tetap bersemangat untuk menyuarakan
kritisi untuk menggugah hati setiap
orang disana untuk berbuat yang lebih
baik untuk kota
yang mereka akui sebagai
kota
kecintaannya, dengan melepaskan ego.
Bahwa Singkawang bukan saja identik
dengan makanan-makanan full fat yang
enak, bukan saja pasir panjang (yang
telah dinodai dengan pengrusakan
besar-besaran), ataupun pantai yang
telah dinodai pula dengan
bangunan-bangunan patung-patung dan
kolam renang yang tidak higenis.
Singkawang dapat menjadi sebuah daerah
percontohan tentang kerukunan dan
pembauran di
Indonesia
dengan keunikan kultur yang sudah mulai
menjadi buah bibir di tingkat nasional
dan Internasional pada umumnya.
Semoga keunikan ini dapat
dipelihara dengan baik dan dikemudian
hari menjadi kebanggaan anak cucu rakyat
di Kalimantan Barat dan Singkawang pada
khususnya.
Salam,
Connie (shakun_tl@yahoo.com)
,
Solo,Wednesday, December 24, 2008
Jawaban
Dari CintaSingkawang:
Yth Ibu Connie,
Terima kasih
atas email Ibu.Tulisan Ibu merupakan
sebuah observasi Ibu terhadap kehidupan
masyarakat Singkawang berdasarkan apa
yang telah Ibu “lihat”kejadian yang
terjadi di lingkungan dimana Ibu berada
ketika itu.Tulisan Ibu sangat
menarik,pantas mendapat perhatian dari
Cinta.
Menurut pengakuan Ibu bahwa Ibu tidak
merasa sebagai "Orang Singkawang" lagi
karena Ibu sudah lama meninggalkan kota
Singkawang.Cinta sangat menghargai
pengakuan Ibu yang jujur itu dalam hal
ini.Memang,kita sering merasa kehilangan
terhadap kepemilikan terhadap sesuatu
yang kita miliki jika kita berpisah jauh
atau karena faktor waktu.Namum demikian,
konsen Ibu terhadap Singkawang seperti
apa yang tertulis di dalam email Ibu
tidak sedikitpun yang menunjukkan
Ibu bukan "Orang Singkawang".
Walaupun Ibu
tidak merasa sebagai orang Singkawang
lagi, tetapi perhatian yang telah Ibu
berikan terhadap masalah sosial-budaya
di
kota
Singkawang telah
menunjukkan bahwa Ibu adalah " Warga/Orang
Singkawang" teladan. Dari tulisan Ibu
bahkan telah menunjukkan bahwa
Ibu memiliki moral lebih baik daripada
beberapa tokoh masyarakat Singkawang
dalam hal ini. Menurut beberapa versi
gossip yang beredar di masyarakat
Singkawang tentang cerita ada orang
Singkawang tinggal di Jakarta yang malu
mengakui dirinya sebagai orang
Singkawang.Akan tetapi, karena pada
suatu hari ketika dia ingin menjadi
tokoh masyarakat Singkawang kemudian dia
mengakui dirinya sebagai orang
Singkawang.Jadi, ingin menjadi tokoh(dihargai)
baru mau mengakui dirinya sebagai orang
Singkawang.Lucu, bukan? Sifat
manusia.
Dengan jujur Cinta harus mengakui bahwa
kota kita, Singkawang sedang menghadapi
beberapa masalah yang sangat
serius.Seperti masalah lingkungan hidup
dan sosial.Kerusakan lingkungan hidup
sudah semakin terasa dampaknya bagi
masyarakat kota Singkawang.Sudah hampir
setiap tahun terjadi banjir,tanah
longsor,berbagai penyakit musiman(deman
berdarah) yang menyerang masyarakat
Singkawang.Semua itu merupakan
sumber”musibah” yang ada sangkut paut
dengan masalah kerusakan lingkungan
hidup yang dilakukan oleh masyarakat
yang tidak menghargai betapa pentingnya
menjaga kelestarian lingkungan
hidup.Mengenai masalah rumah walet
di tengah kota,ini adalah isu tata kota.
Kita tidak tahu pasti, apakah kita
pantas hidup dalam lingkungan seperti
itu sebagai manusia yang sudah “berbudaya”.Yang
jelas,masalah burung walet merupakan “bom
waktu” bagi masyarakat Singkawang.Karena
masalah burung walet menyangkut isu
kesehatan umum dan isu ekonomi.Seperti
pada umumnya isu ekonomi selalu
menyangkut masalah pajak.Kita tidak tahu
pasti, apakah pengusaha walet itu telah
memenuhi kewajibannya membayar pajak
dari hasil pendapatan wallet?
Disamping
masalah lingkungan hidup,kota
Singkawang juga
menghadapi masalah sosial.Jurang pemisah
antara miskin dengan kaya sudah semakin
melebar di dalam masyarakat.Bagi mereka
sebagai masyarakat miskin merasa
keadilan sosial tidak memihak
mereka,kesulitan mengakses pendidikan
dan
pemeliharaan kesehatan.Tanpa
memiliki pendidikan dan skill mereka
sukar mendapat pekerjaan yang dapat
mengubah kehidupan mereka.
Masyarakat masih belum menyadari betapa
pentingnya kita melakukan sesuatu untuk
kepentingan komunitas kita.Dengan
perkataan lain,masyarakat kita masih
belum dapat melakukan sesuatu yang
bermanfaat untuk kepentingan bersama
sebagai komunitas.Seperti dalam kasus
patung naga,proyek yang tidak
mengandung nilai ekonomi.Seandainya
mantan aktor figuran pemeran film Wo Ai
Ni Indonesia Pak Bong Li Thiam sebagai
pengusaha yang memiliki wawasan untuk
memajukan kota Singkawang.Seharusnya
dana untuk membangun patung naga dipakai
untuk training beberapa pemuda
pengangguran(karena mereka tidak
memiliki skill) supaya mereka mendapat
ketrampilan(misal menejemen perhotelan).Dengan
adanya ketrampilan mereka berpeluang
besar akan mendapat pekerjaan dikemudian
hari,bukan memamerkan kekayaannya diatas
kemiskinan saudara-saudara kita
sebagaimana yang dimaksud dalam tulisan
Ibu.
Mengenai organisasi sosial budaya yang
tidak sepenuhnya murni sebagai
organisasi sosial budaya sudah bukan
rahasia bagi sebagian masyarakat
Singkawang,sejak berdirinya klub para
konglomerat Singkawang (Permasis) di
Jakarta,kelompok ini sering memaksakan
kehendak mereka dengan cara yang tidak
demokratis merebut pengaruh di
Singkawang dengan alasan Bui Sha Fui(demi
masyarakat),mereka yang kritis akan
mendapatkan tekanan,dimusuhi dan
terpinggirkan,karena propaganda mereka
Luk Fa Nyin(pengacau komunitas Tionghoa).
Dialema yang dihadapi wako
kita,Pak Hasan Karman cukup
mengkhawatirkan masyarakat
Singkawang.Beliau dikelilingi
pengusaha-pengusaha yang tidak memiliki
wawasan.Permasalahannya,Beliau mengatur
pengusaha atau pengusaha yang mengatur
Beliau.Kalau kita dapat menjawab
pertanyaan itu kita akan mengerti
pembangunan di kota Singkawang.
Mengenai
sungai kota
Singkawang yang
kotor itu,dulu Pak wako kita pernah
bermimpi akan mengundang konsultan dan
foundation asing untuk mengadakan
normalisasi sungai Singkawang.Entahlah
sekarang Beliau masih memiliki mimpi
seperti itu atau tidak.Memang, sudah
saatnya kita memikirkan cara
membersihkan sungai Singkawang supaya
tidak terjadi banjir yang menyiksa
masyarakat Singkawang.
Salam,
CintaSingkawang
|