|
Sementara
seluruh dunia tertuju ke Amerika
dalam persiapan menjelang
pelantikan Barack Obama sebagai presiden
ke-44 AS.
Ada
beberapa peristiwa yang terjadi di
Singkawang dalam minggu ini tidak kalah
penting seperti berita pelantikan
presiden AS.Berita seperti itu pantas
kita ketahui.Marilah kita mengikuti
laporan reporter kami dari Singkawang.
Pada tanggal
16 Januari 2009,jam 14.00 Bapak Chai Ket
Khiong dikenal sebagai pembela hak para
Tatung didampingi pengacara
kondang,Bapak Tampok Pardede SH untuk
menghadap ketua panitia umum Cap Go Meh
2009.Maksud kedatangan Pak Akhiong
dan Pak Tampok ke kantor Setda untuk
meminta kepastian hukum tentang
larangan mendirikan altar,kecuali
altar yang telah ditentukan oleh
Pemkot.Altar disponsori Pemkot
ini,masyarakat Singkawang menyebutnya
altar Permasis karena altar ini
dirancang oleh orang-orang
Permasis.Barang-barang korban yang
dipersembahkan altar ini juga sangat
unik,dari perhiasan emas sampai sepeda
motor.
Ketika Pak
Tampok meminta ketua panitia umum CGM
2009 memberi penjelasan secara tertulis
tentang larangan tersebut menurut dasar
hukum.Tentu saja ketua umum panitia CGM
2009 tidak berani mengambil
keputusan untuk memenuhi tuntutan Pak
Tampok tersebut, karena yang membuat
peraturan hanya satu altar itu Pak
Hasan Karman. Kemudian,Pak Setda
berkonsultasi dengan bossnya ,Pak wako
tentang hal ini. Pak wako kita sadar
dalam hal ini tidak ada dasar hukum yang
mengatur tata cara menunaikan
ibadah,apalagi melarang para pengikut
Chai Ket Khiong mendirikan altar.Pak
wako kita memahami fakta ini, menghadapi
Pak Tampok bukan hal mudah dalam
berdebat masalah hukum.
Akhirnya,pihak panitia CGM 2009
mengizinkan Pak Chai Ket Khiong dan
kawan-kawannya bebas mendirikan altar
sesuai aliran kepercayaan
masing-masing.Disamping diizinkan
mendirikan altar juga diperbolehkan para
tatung mencari sumbangan dari masyarakat.
Ketika
Cintasingkawang meminta komentar dari
Bapak Herry Chung yang sedang
memepersiapkan keberangkatannya ke
Sydney-Australia untuk liburan tahun
baru Imlek disana.Beliau mengatakan”Itu
tindakan Pak Hasan Karman yang paling
bijaksana, memberikan kebebasan kepada
masyarakat merayakan CGM.Memberikan
kesempatan kepada masyarakat berarti
mengurangi beban biaya harus ditanggung
oleh pihak panitia.Dengan donasi yang
terkumpul sejauh ini hanya 200an juta
rupiah sedang biaya untuk pengamanan CGM
memerlukan biaya 600an juta rupiah.Tentu
saja pihak panitia akan mengalami
defisit besar sekali CGM tahun ini”,Pak
Herry mengakhiri komentarnya.
Ketika
Kapolda Singkawang memberi briefing
rencana pengamanan CGM 2009
ini.Pertemuan tersebut dihadiri
PaniatiaCGM ,ketua MABT singkawang dan
utusan khusus dari MABT
Pontianak,Pak Jandi. Menurut perkiraan
pihak Kapolda biaya operasi pengamanan
CGM paling tidak memerlukan biaya
sebesar 600an juta rupiah.Dengan dana
sebesar itu baru dapat melakukan
pengamanan optimal(efisien).
Dalam
pertemuan tersebut Pantia ditegur (harap
dibaca dimarahi)oleh Pak Jandi.
Beliau menilai Panitia yang tidak
tahu(memahami) adat Tionghoa,Karena
menunjuk pihak Panitia CGM dari non
chinese yang sama sekali tidak memahami
tata cara kepercayaan kita.Pak Jandi
memberikan penjelasan kepada Kapolda dan
ketua umum CGM 2009 tentang tata cara
pelaksanaan CGM,baik Pak Kapolda ataupun
ketua umum panitia CGM2009 sama sekali
belum pernah mendapat penjelasan dari
pihak panitia pelaksana CGM.
Masyarakat
Singkawang mengiritik cara menyalurkan
paket Imlek 2009.Pemberian paket Imlek
untuk kaum daufa merupakan kebijakan
Pemkot.Dana untuk paket tersebut berasal
dari pemerintah(uang rakyat).Masyarakat
nilai berdasarkan bukti dilapangan
menunjukan cara penyalurannya bernuansa
politik dan tidak tepat
sasaran,diberikan kepada pendukung dari
caleg yang disponsori oleh Pak Hasan
Karman atau asosiasinya.Sekedar contoh
sdr Johny(alias Hok Lo Min) caleg dari
partai karya perjuangan(pakar pangan)
mengambil paket imlek dari kantor wako
kemudian dia menyalurkan paket tersebut
kepada pendukungnya,daerah pekong Lirang.
Padahal banyak pendukungnya tidak berhak
terima paket Imlek tersebut karena
mereka bukan kaum daufa. Johni ini
merupakan caleg titipan dari Pak Hasan
Karman kepada partai karya
perjuangan,bahkan ada sebuah keluarga
yang sudah punya mobil yang tinggal di
kawasan Lirang bernama A Syang menerima
pakat kaum duafa.
Insiden
sangat memalukan terjadi pada tanggal 20
Januadi 2009 di aula Bappeda
Singkawang,dalam pertemuan berbagai
elemen masayarakat Singkawang mengupas
masalah patung naga.Pak wako kita hadir
dalam pertemuan tersebut.Pak wako kita
membawa 2 kaki tangan(bahasa Malay),yaitu
Pak Iwan Gunawan dan Pak
Budiman.Dalam pertemuan tersebuat
Budiman yang dikenal masyarakat
Singkawang sebagai An To Kong menjadi
Pak wako karena dia berbicara lebih
banyak untuk kepentingan
Pemkot.Sedangkan Pak Hasan Karman hanya
sebagai pendengar saja.Ketika sdr.
Stefanus menegur Pak Budiman
jangan hijack pemikiran Pak Hasan
Karman.Pak Budiman tidak terima,
akhirnya sdr.
Stefanus memberi jurus tamparan
orang dayak kepada Pak Budiman.
Hi,tingkah Pak Budiman ini mau
menjadikan tempat pertemuan ini seperti
parlemen Taiwan,para
anggotanya suka berkelahi
jika argumennya tidak diterima oleh
pihak lain.
Pak Iwan
Gunawan mencoba menyakinkan kepada
hadirin bahwa patung naga itu merupakan
karya seni.Kiranya,para turis memiliki
tingkat IQ dengar dia datang ke
Singkawang hanya untuk melihat seni
itu.Kalau mau lihat seni naga,sudah
jelas ke negeri naga,Tiongkok.Tourist,
bukan orang bodoh.
Ketika
CintaSingkawang menurunkan artikel ini
sebuah jembatan di Pasang pasir –Kaliasin
tiba-tiba ambruk,waktu Pak Hasan Karman
dihubungi tanpa sadar berteriak Hay….
Yah oy punya acala Cap Go Meh wisa lusak
oh sambil ulus-elus dada (Acara Cap Go
Meh yang dibangga-bangakan Pak Hasan
jadi rusak kerena yang ditakuti jalur
Pontianak-Singkawang terganggu).
Begitulah
laporan dari Cinta tentang
drama yang terjadi di Singkawang pada
minggu yang lalu.
|