|
Hasil Ujian Akhir
Sekolah
Berstandar nasional(UASBN) yang diikuti
siswa SLTA di kota
Singkawang
pada tahun 2008 sangat memprihatinkan.
Hasil yang telah dicapai oleh siswa
yang mengikuti ujian tersebut jauh dari
harapan masyarakat dan Pemkot Singkawang.
Siswa yang dinyatakan tidak lulus UASBN
sangat tinggi jumlahnya dimana lebih
dari seribu siswa yang ikut ujian yang
lulus hanya sekitar 500 siswa. Kalau
kita memakai kata statistik untuk
melukiskan angka perbandingan siswa yang
tidak lulus itu, 10 siswa yang ikut
ujian terdapat enam siswa dinyatakan
tidak lulus. Dalam persentase siswa
yang tidak lulus begitu tinggi tentu
saja merupakan kenyataan yang sulit
diterima oleh masyarakat Singkawang.
Masyarakat emosi,
jengkel, frustrasi, dan tidak percaya
terhadap institusi pendidikan di kota
Singkawang. Perasaan Masyarakat pada
situasi seperti itu dapat kita pahami.
Terutama bagi mereka yang secara
langsung berhadapan dengan masalah ini.
Para
orangtua (wali), guru dari siswa yang
tidak lulus merasakan trauma yang sukar
mereka lupakan. Seperti pada umumnya
kegagalan yang dihadapi manusia, selalu
mencari siapa yang jadi penyebab
kegagalan tersebut. Seperti apa yang
diberitakan di media terbitan lokal,
para pakar pendidikan dan pemilik khusus
yang ada di kota Singkawang memberikan
berbagai kritikan.
Ada
yang mengatakan Dinas Pendidikan dan
Pemkot yang harus bertanggungjawab dalam
hal ini. Karena akibat dari penggantian
para pejabat di lingkungan Dinas
Pendidikan oleh Pak Hasan Karman.
Menurut penilaian dari masyarakat cara
penggantian tidak berdasarkan prosedur
dan pratokol birokrasi.
Ada
juga yang berpendapat bahwa sekolah dan
kualitas guru menyebabkan pada siswa
tidak lulus dalam mengikuti UASBN.
Tetapi tidak seorangpun mempertanyakan
pertanggungjawaban siswa yang tidak
lulus pada siswa itu sendiri. Apakah dia
sudah belajar semaksimal mungkin?
Sebagai siswa apakah dia sudah melakukan
semua kewajibannya sebagai pelajar?
Berapa banyak waktu
yang dia habiskan untuk belajar
pelajaran sekolahnya? Kalau ada siswa
secara jujur menjawab pertanyaan
tersebut, maka dia akan sadar bahwa dia
juga bertanggung jawab atas ketidak
lulusan dalam UASBN.
Mutu sumber daya
manusia dari siswa yang lulus masih
harus dipertanyakan. Jika hasil UASBN
sebagai patokkan kita menilai SDM siswa
kota Singkawang maka kita akan
lebih dikagetkan pada fakta berikut ini,
banyak diantara mereka yang lulus itu
hanya memiliki nilai “pas-pasan”memenuhi
persyaratan untuk kelulusan standar
nasional. Mereka yang memiliki angka
kelulusan “pas-pasan” itu, kemungkinan
akan mengalami kesulitan memasuki
jenjang perguruan tinggi
favorit nasional karena
persaingan nilai diantara para
kompetitor.
Kita semuanya
menyadari untuk mendapat pendidikan yang
berkualitas perlu biaya besar. Tanpa
dana memadai sulit bagi kita dapat
menikmati pendidikan seperti itu. Bagi
orangtua yang memiliki ekonomi mampu (kaya)
tersedia banyak solusi untuk
anak-anaknya dalam masalah pendidikan.
Bahkan, salah satu
dari solusi dapat
mengurangi stress anaknya untuk
menghadapi ujian akhir. Sekedar contoh,
anaknya selesai pada kelas X di
Indonesia, kemudian anak itu didaftarkan
pada salah satu
foundation Studies yang ada di Jakarta, kurang lebih satu tahun belajar
disana. Setelah selesai dari foundation,
anak tersebut dapat masuk ke universitas
diluar negeri yang ada hubungan
dengan foundation tersebuat. Sehingga
anak tersebut tidak perlu sampai kelas
XII, dimana harus mengikuti ujian akhir
yang dapat membuat seluruh keluarga ikut
tegang dan merasa dag dig dug. Diluar
negeri, 2,5-3 tahun(tergantung displin
ilmu) sudah tamat sarjana(S1), sehingga
anak ini sudah masuk dunia kerja yang
telah menghasilkan income,
tetapi ex classmates yang dulu di SLTA
masih duduk di bangku kuliah di
Indonesia. Kadang-kadang keberuntungan
selalu memihak kepada mereka
memiliki banyak uang. Bagi masyarakat
tidak mampu (miskin) dapat menikmati
pendidikan berkualitas sangat tergantung
dari alokasi budget APBD untuk
pendidikan. Semakin besar dana tersedia
semakin beruntunglah mereka.
Kita tidak bisa
semata-mata menyalahkan pihak Pemkot,
khususnya Pak Hasan Karman atas
banyaknya siswa yang tidak lulus UASBN
pada tahun ini, karena dalam hal ini
banyak pihak terlibat yang menentukan
hasil akhir yang dicapai oleh pada siswa.
Namun demikian, Pak Hasan Karman
dalam posisi sebagai
‘pengambil keputusan’ yang dapat
menentukan proses pendidikan di kota Singkawang. Tentu saja Beliau juga harus
menanggung sebagian dari gagal panen
bibit unggul SDM
Singkawang pada tahun ini. Masyarakat
mengharapkan Beliau
dapat merumuskan solusi yang jelas untuk
memperbaiki mutu pendidikan di kota Singkawang, yang intinya merupakan
kebijakan pembinaan dan pemberdayaan
sumber daya manusia. Apabila masalah ini
tidak ditangani
secara serius oleh Beliau maka
kepercayaan masyarakat terhadap
kemampuan figur pemimpin
seperti Pak Hasan Karman akan menurun.
Bahkan, pada orangtua(wali) dari para
siswa merasa was-was
dan hilang kepercayaan terhadap mutu
pendidikan
kota
Singkawang, terutama bagi mereka yang
anaknya akan mengikuti ujian pada tahun
depan.
Kita turut merasakan
kekecewaan dari hasil UASBN yang
diperoleh siswa SLTA di
Singkawang pada tahun
ini. Seperti apa yang dirasakan oleh
tokoh pendidikan kita, Pak Aliok yang
dikenal sebagai pak wako Singkawang di
Bandengan. Beliau pasti sangat kecewa
melihat fakta ini. Padahal Beliau telah
banyak melakukan usaha advokasi dan
pemikiran untuk memajukan pendidikan di
kota
Singkawang.Tetapi hasilnya?Untuk
menghilangkan stress masalah ini dan
menjaga kebugaran maka Beliau mengajak
pada orangtua(wali) dan siswa mengikuti
acara tour de Singkawang. Dengan harapan
bersepeda dapat menurunkan tekanan darah
tinggi dari pasca bad news untuk dunia
pendidikan di Singkawang. Manfaat
bersepeda juga dapat memperlancar
peredaran darah dipinggul dapat
mengurangi rasa sakit postrat. Selamat
bersepeda ria Pak Aliok!!! Semoga dapat
banyak inspirasi baru untuk memajukan
pendidikan di Singkawang setelah
bersepeda nanti.
|