Ancaman burung walet terhadap kehidupan  kota Singkawang,bagian I

26 Maret 2011

Kata pengantar:

Mengingat dari hari ke hari semakin bertambah banyak pembangunan rumah walet di tengah kota Singkawang. Penambahan bangunan tersebut dapat mempengaruhi infrastuktur tata kota Singkawang, dan keselamatan  kehidupan masyarakat disana. Melalui edisi khusus ini, CintaSingkawang ingin membawa pembaca kami  untuk melihat lebih dekat  berbagai aspek yang menyangkut  usaha sarang burung walet di kota Singkawang. Tulisan ini disajikan dalam dua bagian. Marilah mengikuti  bagian pertama ini.

 

Bagian Pertama:

Sejak  Sepetember 1998 sampai bulan April 1999, di kawasan Semenanjung Malaysia(Malaysia Barat) dilanda  wabah penyakit yang mematikan. Seratus lima orang korban tercatat secara resmi meninggal  sesudah mengkonsumsi produk  yang mengandung daging babi, kontak dengan babi atau kontak dengan  si penderita. Menurut sumber tidak  resmi angka korban jauh lebih tinggi dari yang dilansir oleh media setempat.

 

Untuk mencegah agar tidak  meluas wadah  penyakit ini, sekitar 1,1 juta ekor babi dimusnahkan. Menurut dugaan semula, diperkirakan wadah penyakit  yang menyebabkan kematian manusia dan babi itu sebagai Japanese Encephalitis. Japanese Encephalitis adalah suatu penyakit infeksi virus yang menyerang susunan saraf pusat yang disebarkan oleh nyamuk (mosquito-borne viral diseae) dengan perantaraan hewan lain, seperti babi. Penilitian selanjutnya menunjukkan disebabkan oleh wadah virus Nipah.

Menurut catatan, ada satu pekerja di perternakan babi yang tidak jauh dari kota Ipoh merupakan orang pertama yang terinfeksi virus Nipah pada bulan Januari 1997.

 

Kelelawar buah (Pteropodidae) sebagai pengantara virus Nipah. Ketika malam hari para kelelawar yang  membawa virus Nipah memakan sisa makanan ternak babi. Air liur kelelawar mengandung virus tersebut tercampur kedalam makanan, kemudian babi memakan makanan yang terkontaminasi dengan virus Nipah. Kemudian penyebaran virus Nipah yang sangat ganas itu  dari babi ke manusia.

 

Apakah burung walet sebagai ancaman baru bagi kehidupan masyarakat di kota Singkawang ? Menyebarkan virus berbahaya  bagi  keselamatan jiwa masyarakat di kota Singkawang?

Melalui artikel ini  CintaSingkawang ingin mengajak  pembaca melihat lebih dekat masalah burung  walet  ini, khusus di kota Singkawang dan sekitarnya.

 

Menurut peraturan pemkot Singkawang yang telah menetapkan beberapa zone tertentu yang mengizinkan masyarakat boleh berternak burung walet. Dalam artikel ini CintaSingkawang memakai kata “berternak atau penangkaran” daripada “budi daya”. Dalam bahasa Inggeris berternak burung disebut “aviculture”yang artinya “the breeding and rearing of birds”( penangkaran dan pemeliharaan burung). Menurut hemat CintaSingkawang memakai kata “budi daya” dalam pengertian bahasa Inggeris “cultivate” dalam pengertian biologi “grow or maintain (living cells or tissue) “bermakna komersial, tanpa mengandung makna “bertangungjawab secara moral” terhadap lingkungan dan keselamatan manusia atau hewan. Kata “berternak”bermakna: “memelihara dan mengembangbiakkan hewan dengan tujuan produksi”. Kalau kita sebagai peternak kita memiliki tanggungjawab dan berkewajiban terhadap  keselamatan hewan yang kita ternak,  dan menjaga kelestarian lingkungan dan keselamatan manusia. Sekedar contoh, peternakan babi. Kewajiban peternak  yakni memberi vaksinasi kepada babi supaya dapat mencegah penyakit, vaksinasi yang sesuai dengan ketentuan departemen kesehatan ( tujuan vaksinasi melindungi keselamatan hewan dan manusia). Pengelolaan hasil buangan (kotoran ternak) supaya tidak mencemari lingkungan hidup. Kotoran babi dapat mencermari lingkungan hidup karena mengandung beberapa macam zat kimia tidak mudah larut melalui proses alamiah. Disamping itu, hewan ternak kita harus dilindungi (dikandangkan), supaya tidak merusak  barang milik orang lain yang dapat merugikan pihak orang lain.  Sedangkan memakai kata “budi daya” hanya menonjolkan sisi bisnis saja, menumbuhkan (memperbanyak) sarang burung walet.

 

Kita dapat  menemukan beberapa buku tentang walet  yang ditulis oleh pengusaha walet dijual di toko buku.memakai kata “budi daya” untuk berternak walet. Inti dari buku tersebut tentang bagaimana cara berternak walet supaya mendapat hasilnya, tidak satupun dari buku-buku tersebut menjelaskan kewajiban  dan tanggungjawab sebagai pemilik atau sebagai peternak walet terhadap lingkungan di sekitar rumah penangkaran burung walet. Menurut penilaian CintaSingkawang mereka memakai suatu kosakata( budi daya) dengan tujuan untuk  menguntungkan pihak mereka sebagai pengusaha burung walet.

Dalam pengertian  bahasa Indonesia apabila memelihara unggas sering  disebut berternak. Misalnya berternak ayam, berternak itik. Usaha dari berternak kita menyebutnya peternakan.Tetapi kita tidak menyebutkan”budi daya” ayam untuk pengertian peternakan ayam. Padahal burung walet, ayam dan itik adalah golongan hewan jenis unggas (birds). Mengapa ada dua istilah berbeda untuk menyebut satu  usaha yang sama?  Sangat jelas, mereka memakai suatu istilah yang menguntungkan mereka.

 

Marilah kita melihat beberapa permasalahan rumah penangkaran burung walet melalui artikel ini:

Masalah Kesehatan:

Sejauh ini belum ada data yang menyatakan burung walet menyebarkan virus avian influenza (H5N1) atau flu burung,atau  menyebarkan virus lain yang dapat membahayakan keselamatan manusia. Tetapi sudah ada  beberapa kasus flu burung daerah di Kalbar. Penyebaran flu burung sangat mencemaskan kita, karena wadah ini membahayakan  kesehatan kita, dan dapat menghancurkan usaha peternakan unggas di daerah Kalbar. Beberapa tahun yang lalu daerah ini bangga karena “ bebas dari flu burung”. Keberuntungan tidak selalu abadi, kata pepatah.

 

Potensi  burung walet sebagai sumber bencana baru bagi kesehatan kita, sumber pembawa atau menyebarkan penyakit semakin besar peluang dimasa akan datang. Karena perubahan cuaca tidak menentu,  lingkungan hidup kita semakin tercemar, terkontaminasi sebagai faktor dapat mempengaruhi kehidupan burung walet. Burung walet bermain dan mencari makanan di lingkungan tidak bersih. Ada kemungkinan membawa berbagai virus berbahaya ke sarangnya. Seperti cerita diatas kelelawar host virus Nipah. Penangkaran walet di tempat pemukiman masyarakat atau di tengah kota yang padat dengan populasi. Jika terjadi penyebaran wadah penyakit dapat membahayakan seluruh penduduk, dapat melumpuhkan roda kehidupan di kota . Betapa tidak spektakuler kota Singkawang jika  masyarakatnya harus hidup bersama dengan burung walet. Semakin bertambah banyak  rumah penangkaran walet semakin bertambah besar peluang kota Singkawang akan kena wadah  penyakit.

 

Masalah Sosial:

Dari hari ke hari semakin banyak penambahan bangunan rumah walet di tengah kota Singkawang. Penambahan tersebut  berpotensi menimbulkan konflik horizontal  di dalam masyarakat. Terutama bangunan rumah walet pada suatu lokasi yang dapat  mengganggu ketenangan dan kenyamanan umum; dekat di lingkungan sekolah, rumah ibadah dllsbgnya. Karena keterbatasan lahan di dalam kota, sering membangun rumah walet dipaksakan pada suatu lokasi tertentu tanpa memperhatikan kepentingan umum. Masyarakat umum merasa terganggu jika lingkungan tempat hidup mereka terdapat rumah walet. Kebisingan yang disebabkan bunyi rekaman memanggil burung walet, bau kotoran burung walet, banyak serangga beterbangan.  Tentu saja ini sangat merugikan kepada masyarakat yang hidup di lingkungan sekitar rumah walet. Kualitas kehidupan mereka merasa terganggu, mereka tidak dapat beristirahat dengan tenang. Pada kondisi seperti itu, dapat mengganggu konsentrasi para anak mereka  yang sedang  belajar.

 

Jika pemkot tidak memberi pelindungan kepada masyarakat yang bukan pemilik rumah walet dan tidak membatasi pemilik rumah walet melakukan kegiatan (baca: bunyi-bunyian) yang dapat merugikan masyarakat, diwajibkan menjaga lingkungan tetap bersih.  Tidak mustahil akan menimbulkan konflik horizontal yang dapat merugikan antara pemilik rumah walet dengan masyarakat.

 

Dampak dari bertambah banyak rumah walet, harga tanah di pinggiran kota naik.  Pada mafia tanah memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapat keuntungan. Para mafia tanah mencari pemilik tanah yang miskin dan tidak berpendidikan, mafia tanah mendekati mereka memberi pinjaman uang. Pemilik tanah  terbelit dalam hutang, kemudian mafia tanah ini menekan mereka menjual tanah. Para mafia tanah ini berproganda bahwa bisnis walet sangat menjanjikan dan mudah mendapat keuntungan  kepada investor yang tidak memahami bisnis walet. Para investor termakan isu, ingin menginvestasikan bisnis walet perlu tanah untuk membangun rumah walet.  Para mafia tanah ini menawarkan tanah dan jasa mereka  kepada  investor. Mafia tanah juga memberi jaminan kepada investor bahwa masalah izin bangun usaha walet mudah diurus. Karena para mafa tanah ini adalah konco-konconya Pak HK. Mereka saling membutuhkan, Pak HK butuh mafia tanah mencari investor sedangkan mafia tanah ingin mencari keuntungan.

 

Bisnis walet adalah  bisnis penuh resiko, bisa terjadi  apa yang diinvestasikan tidak mendapat keuntungan  apa-apa. Kalau tidak ada resiko dan mudah mendapat  keuntungan sudah jelas akan diborong  semua oleh Pak Aliok. Bukankah begitu, Pak Aliok? Mendapat kekayaan dengan cepat?

Bisnis walet bukan usaha padat karya  yang dapat memperkerjakan  banyak orang. Booming bisnis walet ini  tidak menciptakan lapangan kerja secara signifikan di kota Singkawang malah menimbulkan masalah baru di kota Singkawang yakni kecemburuan sosial,memperlebar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin .

 

Mahalnya harga tanah ini menimbulkan kelas sosial baru di pedesaan yaitu kelas petani miskin yang  tidak memiliki apa-apa (tanah).Generasi muda dari  keturunan kelas ini, mereka akan  sulit memiliki tanah karena harga tanah begitu mahal jauh daripada jangkauan income mereka.Hal ini terjadi selama masa pemerintahan Pak HK yang tidak menaruh perhatian perkembangan dan pembangunan di pedesaan.

 

Masalah Politik:

Bisnis walet sering dijadikan isu politik. Mereka yang berkuasa memanfaatkan pengusaha walet sebagai sumber memperoleh dana non budgeter. Berbagai isu politik sering dilemparkan untuk menakuti/menekan para pengusaha , misalnya “rencana peraturan pemda dapat merugikan pengusaha walet”. Untuk mencegah hal itu terjadi,  perlu dana untuk meloby para politisi di DPRD. Pengusaha walet perlu mengumpulkan dana.

 

Menurut pengakuan Bapak Bong Li Thiam, pengusaha walet dan perhotelan. Pada era pemerintahan Pak Awang Ishack ada beberapa kali meminta pungutan dari para pengusaha walet Singkawang. Salah satu dari pungutan yang masih diingat Pak Bong Li yakni terjadi  pada suatu siang di tahun 2006, Pak Bong Li yang sedang pesta di Happy Building mendapat telepon dari orang dekat Pak Awang Ishack yang memintanya mengumpulkan dana sebesar Rp.250.000.000,00( dua ratus lima puluh juta rp ) pada malam itu juga. Walaupun Pak Bong Li mengeluh karena waktu yang diberikan begitu mendesak tetapi dia penuhi permintaan Pak Awang untuk keperluan yang sangat urgen. Demikian menurut narasumber Cintasingkawang yang ada pada dilokasi tersebut. Pengusaha  walet telah menjadi sumber pemerasan para pejabat di sana.

 

Di media massa cetak kita sering membaca tentang pertentangan pandangan antara wako Singkawang, Pak Hasan Karman dengan Ketua Asosiasi Pengusaha Walet Singkawang (APWS), Pak Iwan Gunawan mengenai masalah walet di Singkawang. Ketidakmampuan Pak HK memberi ultimatum kepada Pak Iwan  dkk  tentang   kontribusi dari pendapatan hasil sarang burung walet kepada  pemkot Singkawang. Pak Iwan memiliki data (bukti) yang  lengkap tentang pungutan dari APWS selama di bawah pemerintahan Pak HK. Jika Pak HK mendesak terus kepada pihak APWS membayar retribusi, ada kemungkinan data ini dipakai oleh Pak Iwan sebagai bahan untuk  menghadapi Pak HK. Tentu saja data tersebut sangat mengganggu Pak HK  jika Pak Iwan serahkan kepada pihak yang berkepentingan. Menurut pengakuan beberapa pengusaha walet Singkawang kepada CintaSingkawang bahwa selama pemerintahan Pak HK banyak pungutan ditujukan  kepihak mereka untuk “acara politik tebar pesona Hasan Karman spektakuler” dengan dalih pungutan untuk mendukung  acara keagamaan.

 

Tanpa ada peraturan yang jelas yang mengatur beberapa besar kontribusi yang harus dibayar oleh pihak pengusaha walet. Selama itu, pihak pengusaha menjadi tempat untuk pungutan illegal. Siapapun menjadi wako Singkawang, para pengusaha walet tetap merupakan korban pemerasan non budgeter  kalau sistim tidak diubah.


Bersambung ke bagian II
CintaSingkawang,26 Maret 2011