Ancaman burung walet terhadap kehidupan  kota Singkawang, bagian II

02 April 2011

Kata pengantar:

Ini merupakan tulisan  bagian II dari permasalahan sarang burung walet di kota Singkawang

Marilah mengikuti  bagian II ini.

 

Bagian Kedua:

 

Masalah Hukum:

Masalah pemilikan burung walet, belum jelas cara pengaturannya. Siapa pemilik burung walet yang sesungguhnya? Bolehkah pemilik rumah walet berhak  mengklaim bahwa burung walet yang ini atau burung walet yang itu adalah milik mereka? Singkatnya, apakah mereka berhak mengklaim burung-burung walet yang ada di rumah walet itu miliknya? Bagaimana cara pembuktian terhadap kepemilikan burung walet ini?  Bagaimana mengidentifikasi setiap individu burung walet yang merupakan satwa liar ini?  Apakah burung walet sebagai satwa yang dilindungi di wilayah kota Singkawang?

 

Untuk menjawab pertanyaan diatas ada satu  peraturan baku yang berlaku secara universal dimana saja; jika tidak ada orang yang dapat  mengklaim pemilikan (dengan bukti- bukti) barang, harta,atau  apa saja maka pemilik barang tersebut   adalah negara. Jadi, kita sepakati bahwa burung walet  milik Negara bukan milik para pemilik rumah walet sedang rumah walet itu adalah property miliknya, Burung walet adalah  milik Negara kesatuan Republik Indonesia.

 

Jika terjadi musibah penyebaran penyakit oleh burung walet. Siapa harus menanggung biaya kerugian terhadap masyarakat? Biaya pengobatan dan biaya membersihkan dari wadah penyakit?  Bagi mereka merasa dirugikan oleh rumah walet apakah berhak menuntut kerugian?

Jika burung walet bukan  milik para pemilik rumah walet, apakah pemilik rumah walet tersebut dapat dimintai pertanggungjawabannya jika dikemudian hari burung walet menyebarkan penyakit yang dapat merugikan masyarakat di sekitar bangunan rumah walet?

 

Mengenai perizinan untuk bangunan rumah walet masih sangat tidak jelas dan membingungkan. Terutama menyangkut masalah izin bangunan dan  izin usaha. Bagaimana menentukan suatu lokasi boleh diizinkan untuk bangun rumah walet atau tidak.

 

Masih banyak materi yang perlu diuji di pengadilan mengenal masalah burung walet dari segi hukum. Bukan berarti di dalam kitab hukum kita tidak  ada yang mengatur masalah burung walet lalu persoalan yang ditimbulkan oleh burung walet tidak bisa diselesaikan dengan proses hukum. Betapa sederhana hidup ini jika semua aspek kehidupan  dapat diatur oleh dua kitab hukum kita. Pengadilan adalah tempat untuk menguji logika menurut prospektif hukum dengan demikian hukum itu berkembang sesuai perkembangan  jaman.

 

Prospektif  Bisnis Walet:

Air liur dari burung walet diumpamakan  seperti emas, barang berharga. Komoditas yang berharga selalu menarik perhatian mereka yang ingin mendapat kekayaan. Menurut Pak Aliok burung walet bukan sembarang burung, adalah burung surga. Pemujaan Pak Aliok tidak berlebihan, sesuatu yang bernilai ekonomis dan mendatangkan income sudah pantas dipuja-puja. Apalagi sejauh ini pengusaha walet Singkawang merupakan ladang sumber dana bagi mereka yang berkepentingan politik di Singkawang. Ada yang percaya kunci sukses bagi  siapa saja yang mau menduduki kursi nomor satu di Singkawang: dia harus  menguasai dan berpengaruh terhadap pengusaha walet  di Singkawang, dan memiliki  hubungan baik dengan elite Tionghoa Singkawang di perantauan.

 

Bisnis walet tidak ada bedanya seperti pada umumnya bisnis; ada resiko. Bisa rugi dan modal yang telah diinvestasikan  tidak akan kembali dalam jangka waktu  pendek. Pendapatan bisnis walet  tergntung dari 2 faktor, yakni:

-Produksi sarang walet;berapa banyak dan mutu sarang(air liur) walet dihasilkan per panen

-Harga sarang walet; harga sarang walet  di pasar internasional.

 

Produksi sarang walet:

Produksi sarang walet ditinjau dari segi kuantitas dan kualitas.

Jumlah(kuantitas) sarang walet yang dihasilkan tergantung  dari jumlah populasi burung walet, dan berapa banyak jumlah rumah walet di sekitar lingkungan tersebut. Jika populasi burung walet tidak bertambah sedang rumah walet bertambah ini akan mempengaruh jumlah sarang yang didapat (panen) para pengusaha. Karena perbandingan jumlah populasi walet tidak seimbang dengan jumlah rumah walet. Hubungan ini diumpamakan sekolah dan murid, jumlah sekolah lebih banyak dari jumlah murid yang membutuhkan sekolah. Akibatnya pasti ada sekolah kekurangan murid atau tidak mendapat jumlah murid optimal untuk mengoperasikan sekolah, ini termasuk salah satu dari masalah pendidikan  yang ada  di kota Singkawang.

Kalau anda sebagai pemain baru dalam bisnis walet bisa terjadi rumah walet anda tidak banyak burung walet bermalam di sana.

 

Berkurang populasi burung walet dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Misal: penyakit(parasit) , memakan makanan yang terkontaminasi dengan racun( insek kena insektisida), perubahan habitatnya. Dan  tidak ada sistem  peraturan  berlaku  dan mewajibkan kepada setiap pemilik rumah walet untuk memperbanyak populasi walet.

 

Mutu sarang walet  menentukan nilai harga jual. Penilaian mutu berdasarkan  warna sarang walet, kotoran yang  tercampur. Sarang walet yang banyak tercampur dengan kotoran(bulu,ulat) nilai harga jual berkurang. Habitat bagi kehidupan walet memainkan peranan penting  menentukan kualitas sarang yang dihasilkan; jenis insek yang mereka makan, polusi udara dll dapat mempengaruhi mutu sarang walet.

 

Bagi pengusaha (pemilik rumah) walet supaya bisnisnya beruntung dia harus berhasil menghasilkan sarang walet banyak dan bermutu.

 

Harga Sarang walet:

Harga sarang walet ditentukan oleh market internasional di Hongkong. Seperti pada umumnya harga komoditas harganya tergantung dari permintaan dan penawaran pasar.

 

Menurut pengobatan Barat sarang walet tidak bernilai farmasi. Sedangkan menurut pengobatan tradisional Tiongkok sarang walet berhasiat untuk  mengobati batuk, asma, lemah syawat. Industri obat-obatan adalah pemakai sarang burung walet terbesar, sarang burung walet dicampurkan dengan komponen jamuan lain. Sejak penemuan dan semakin mudah didapatnya pil Viagra harga sarang burung cendrung menurun dari tahun ke tahun. Karena bagi mereka yang lemah syawat  lebih suka memilih pil Viagra daripada obat tradisional yang harganya mahal (mengandung sarang walet) dan belum tentu berhasiat. Pil Viagra mudah didapat dan harganya terjangkau bagi pasien maka masyarakat Tiongkok lebih mencintai Viagra daripada obat tradional yang mengandung sarang burung walet itu.

Sudah ada perusahaan farmasi internasional telah menemukan vaksin yang dapat mencegah asma, batuk karena reaksi alergi terhadap debu, tepung sari. Vaksin tersebut belum dipasarkan, sekarang sedang dalam diujicoba klinik. Kelak vaksin tersebut dipasarkan akan mempengaruhi pemasaran obat batuk tradisional.

Jika obat tradisional semakin terdesak maka permintaan terhadap sarang burung walet akan menurun. Penurunan ini akan mempengaruhi harga sarang burung walet. Semakin banyak sarang walet membanjiri market internasional harga sarang burung walet semakin tidak stabil, harga cendrung menurun.

 

Dilema:

Jika kita ingin kota Singkawang sebagai kota modern, dalam pengertian sebagai kota nyaman untuk ditinggal memiliki lingkungan bersih dan teratur. Kota seperti itu menuntut masyarakatnya meninggalkan gaya hidup “tarzan”. Masyarakat hidup dalam satu  lingkungan dengan satwa liar bukan hal dibenarkan  dari segi  kepentingan kesehatan publik. Potensi penyebaran penyakit berbahaya oleh burung walet susah diprediksi. Selama rumah walet ada di lingkungan pemukiman bahaya dan ancaman penyakit yang disebarkan burung walet selalu ada.

 

Tata kota dan keindahan kota semakin terganggu selama pembangunan rumah wallet kian bertambah.Perencanaan tata kota semakin tidak teratur.

 

 Dari segi “money items” sarang burung walet ini tidak menyumbang pembangunan kota Singkawang. Para pengusaha walet tidak membayar pajak(retribusi). Sudah bertahun tahun para pengusaha rumah walet seperti Bong Li Thiam, Iwan Gunawan,  Alok dan para pemain walet lainnya menikmati tax holiday tanpa membayar pajak satu senpun dari pendapatan sarang burung walet kepada Negara. Betapa tidak adil jika dibandingkan dengan  ribuan pengawai negeri sipil kecil setiap bulan gajinya dipotong untuk membayar pajak di kota Singkawang. “Keadilan sosial” menjadi pertanyaan bagi masyarakat Singkawang. Seandainya instansi perpajakan kita lebih berperanan aktif tentu saja hal ini tidak akan terjadi. Menurut prinsip perpajakan: “setiap pendapatan (income) merupakan objek pajak, tidak membayar pajak adalah tindakan  melanggar hukum”. Jadi, tidak ada istilah karena tidak memahami berapa besar pajak yang harus dibayar oleh pengusaha walet.

Sekedar contoh: Pak Alok menyewa gedung bekas bioskop Kota Indah dan merubah fungsi sebagai rumah walet seharga Rp500juta per tahun. Entah beberapa besar pendapatan dari sarang burung walet dan berapa besar kerugian Negara  karena dia tidak membayar pajak.

 

Masalah pengusaha tidak membayar retribusi bukan hanya menimbulkan kecemburuan sosial saja. Karena masayarakat umum Singkawang tidak menikmati  kekayaan yang dihasilkan burung walet. Prinsip keadilan sosial bagi masayarakat Singkawang sudah diabaikan oleh pemerintahan Pak HK. Kontribusi dari retribusi pengusaha walet bisa digunakan dalam berbagai proyek yang bermanfaat bagi masyarakat (menciptakan lapangan pekerjaan untuk  mengurangi pengangguran) sebagai kompensasi untuk masyarakat yang dirugikan atas kehadiran rumah walet. Sejauh ini, yang menikmati benefit dari  hasil sarang burung walet hanya pengusaha walet dan  penguasanya, Pak HK. Walaupun para pengusaha ada yang katanya “ menyumbang” sumbangan suka rela, itupun sumbangan yang tidak berarti  hanya digunakan oleh para politisi untuk politik pencitraan diri spektakulernya Hasan “pembulak” Karman dan tidak ada manfaatnya bagi masyarakat Singkawang.

 

 

( Habis)
 
CintaSingkawang,02 April 2011